<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Korban Gempa &#8211; NTT News</title>
	<atom:link href="https://nttnews.net/tag/korban-gempa/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://nttnews.net</link>
	<description>Tajam, Akurat Dan Terpercaya</description>
	<lastBuildDate>Tue, 18 Aug 2026 12:23:24 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.0.4</generator>

<image>
	<url>https://nttnews.net/wp-content/uploads/2025/06/cropped-Green-and-Blue-3D-Global-News-Logo_20250612_235312_0000-100x75.png</url>
	<title>Korban Gempa &#8211; NTT News</title>
	<link>https://nttnews.net</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Di Balik Puing Pustu Bea Waek, Bidan yang Terluka Tetap Bertahan Melayani Warga Korban Gempa</title>
		<link>https://nttnews.net/daerah/di-balik-puing-pustu-bea-waek-bidan-yang-terluka-tetap-bertahan-melayani-warga-korban-gempa/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[NTTNews.Net]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 18 Aug 2026 12:23:24 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Daerah]]></category>
		<category><![CDATA[Bidan]]></category>
		<category><![CDATA[Desa Bea Waek]]></category>
		<category><![CDATA[Kabupaten Manggarai Timur]]></category>
		<category><![CDATA[Kecamatan Lambaleda Selatan]]></category>
		<category><![CDATA[Korban Gempa]]></category>
		<category><![CDATA[Maria Avila Goredy]]></category>
		<category><![CDATA[Perawat]]></category>
		<category><![CDATA[Petugas Medis]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://nttnews.net/?p=9256</guid>

					<description><![CDATA[<p>BORONG, NTTNEWS.NET &#8211; Duka mendalam menyelimuti Kabupaten Manggarai Timur dan sejumlah wilayah di Pulau Flores,...</p>
<p>Artikel <a rel="nofollow" href="https://nttnews.net/daerah/di-balik-puing-pustu-bea-waek-bidan-yang-terluka-tetap-bertahan-melayani-warga-korban-gempa/">Di Balik Puing Pustu Bea Waek, Bidan yang Terluka Tetap Bertahan Melayani Warga Korban Gempa</a> pertama kali tampil pada <a rel="nofollow" href="https://nttnews.net">NTT News</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>BORONG, NTTNEWS.NET &#8211;</strong> Duka mendalam menyelimuti Kabupaten Manggarai Timur dan sejumlah wilayah di Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), setelah gempa bumi dahsyat berkekuatan magnitudo 7,7 mengguncang wilayah tersebut dan menimbulkan korban jiwa serta kerusakan bangunan di berbagai tempat. Gempa tersebut berpusat di sekitar Mbay, Kabupaten Nagekeo, namun getarannya dirasakan dan berdampak luas di sejumlah wilayah Pulau Flores.</p>
<p>Bencana itu tidak hanya merobohkan rumah, fasilitas umum, tempat pelayanan kesehatan, dan bangunan lainnya. Gempa juga meninggalkan luka yang jauh lebih dalam: kehilangan orang-orang tercinta, kehilangan tempat tinggal, kehilangan harta benda, serta trauma yang belum sempat pulih.</p>
<p>Di tengah kepanikan dan ketidakpastian, para korban masih terus membutuhkan pertolongan. Tim pencarian dan pertolongan berpacu dengan waktu menyelamatkan warga yang membutuhkan bantuan, sementara tenaga kesehatan berdiri di garis paling depan untuk memastikan korban yang terluka tetap mendapatkan pelayanan.</p>
<p>Namun, di balik hiruk-pikuk operasi kemanusiaan tersebut, ada perjuangan para tenaga kesehatan yang nyaris tidak terlihat.</p>
<p>Mereka bukan hanya merawat korban. Mereka juga merupakan korban. Mereka kehilangan rumah, kehilangan tempat kerja, kehilangan barang-barang pribadi, bahkan sebagian harus menjalankan tugas sambil menahan sakit dan trauma akibat tertimpa reruntuhan bangunan.</p>
<p>Salah satunya terjadi di Desa Bea Waek, Kecamatan Lamba Leda Selatan, Kabupaten Manggarai Timur.</p>
<p>Di tengah puing-puing bangunan Pustu Bea Waek yang hancur total, seorang bidan bernama Maria Avila Goredy yang kerap disapa Endang tetap memilih bertahan. Luka masih membekas di tubuhnya. Trauma akibat tertimpa reruntuhan belum sepenuhnya hilang. Namun panggilan kemanusiaan membuatnya kembali berdiri dan melayani masyarakat.</p>
<p>Pustu Bea Waek yang selama ini menjadi tempat masyarakat mendapatkan pelayanan kesehatan kini tinggal puing.</p>
<p>Bangunan yang dahulu menjadi tempat para tenaga medis bekerja, tempat warga datang meminta pertolongan, tempat ibu-ibu memeriksakan kehamilan, tempat anak-anak mendapatkan pelayanan kesehatan, sekaligus menjadi rumah bagi bidan desa tersebut, kini tidak dapat digunakan lagi.</p>
<p>“Pustu Bea Waek rusak total. Rumah yang rusak berat maupun ringan kurang lebih ada 81 rumah. Kalau pemerintah sampai dengan hari ini belum ada bantuan sama sekali. Tanggal 18 Agustus ada bantuan dari Media Flores, kalau diuangkan sekitar Rp3.300.000. Untuk tenda darurat ada 17. Terus yang tenda di teras rumahnya rusak ringan, mereka buat tenda di depan teras,” tutur Endang dengan suara penuh kesedihan, kepada media ini pada Selasa (18/8/2026) melalui sambungan telepon.</p>
<p>Di wilayah tersebut, sebanyak 17 rumah dilaporkan mengalami kerusakan parah. Warga yang kehilangan tempat tinggal terpaksa membuat tenda darurat secara mandiri menggunakan apa saja yang masih bisa diselamatkan.</p>
<p>Tidak ada tenda umum. Tidak ada tempat pengungsian yang layak. Masing-masing kepala keluarga berusaha bertahan dengan kemampuan sendiri.</p>
<p>Di tengah kondisi tersebut, pelayanan kesehatan juga harus tetap berjalan.</p>
<p>Pustu Bea Waek hanya memiliki tiga orang bidan dan satu orang perawat. Tidak ada dokter yang bertugas di sana. Setelah gedung Pustu hancur, masyarakat bersama tenaga kesehatan kemudian membuat posko kesehatan sementara di dalam tenda darurat.</p>
<p>“Kalau di Pustu tidak ada dokter, hanya ada bidan tiga orang dan perawat satu orang. Saat kejadian saya yang kena tindis oleh runtuhan bangunan karena saya yang tinggal di situ,” ungkap Endang.</p>
<p>Ia sendiri menjadi korban. Ketika gempa mengguncang, bangunan tempat ia tinggal sekaligus tempatnya menjalankan tugas runtuh. Batu bata dan kayu menimpa tubuhnya. Bahunya lebam. Pinggangnya mengalami memar. Lututnya mengalami luka.</p>
<p>Namun rasa sakit itu belum seberapa dibandingkan rasa kehilangan yang harus ia tanggung setelah melihat tempat tinggal dan tempat pengabdiannya berubah menjadi reruntuhan.</p>
<p>“Saya mengalami lebam di bahu, pinggang, dan lutut. Di lutut yang luka,” katanya.</p>
<p>Meski tubuhnya terluka dan pikirannya masih diliputi trauma, Endang kembali menjalankan tugas.</p>
<p>Ia bersama tenaga kesehatan lainnya tetap berada di posko darurat yang dibangun warga.</p>
<p>Setiap hari mereka bekerja di bawah tenda sederhana yang dibuat menggunakan kayu dan terpal. Tidak ada lagi ruangan dengan dinding kokoh. Tidak ada lagi meja pelayanan yang nyaman. Tidak ada lagi ruang penyimpanan obat yang aman.</p>
<p>Yang tersisa hanya semangat untuk menyelamatkan dan melayani masyarakat.</p>
<p>“Tetapi karena besarnya cinta saya sebagai petugas medis, yaitu bidan, untuk melayani masyarakat, saya tetap kerja total, walaupun saya masih mengalami trauma berat akibat gempa tersebut dan ditindis batu bata bangunan dan kayu. Tapi cinta saya sangat besar untuk masyarakat, terutama para ibu, lansia, dan anak-anak,” ujarnya.</p>
<p>Kalimat itu menggambarkan betapa berat pengabdian seorang tenaga kesehatan di tengah bencana.</p>
<p>Ia terluka, tetapi tetap bekerja. Ia kehilangan tempat tinggal, tetapi tetap membuka pelayanan. Ia mengalami trauma, tetapi tetap berusaha menenangkan masyarakat.</p>
<p>Ia kehilangan barang-barang pribadi, tetapi masih memikirkan warga yang membutuhkan pertolongan.</p>
<p>Di tengah kehancuran itu, obat-obatan memang telah diturunkan dari Puskesmas Mano. Namun kebutuhan masyarakat jauh lebih besar.</p>
<p>Endang mengatakan hingga Selasa, 18 Agustus 2026, bantuan pangan dan tenda dari dinas terkait belum diterima warga terdampak di Desa Bea Waek.</p>
<p>“Sampai sekarang belum ada satu pun bantuan pangan kepada warga terdampak. Namun bantuan sembako dan tenda dari dinas terkait sampai saat ini belum ada sama sekali sejak kejadian gempa,” ungkapnya.</p>
<p>Kondisi tersebut membuat warga harus bertahan dengan apa yang mereka miliki.</p>
<p>Sebagian tidur di bawah tenda darurat. Sebagian lainnya bertahan di halaman rumah. Ada pula warga yang rumahnya rusak ringan dan memilih membuat tenda di depan teras karena takut kembali masuk ke dalam rumah.</p>
<p>Sementara itu, bangunan Pustu Bea Waek yang menjadi pusat pelayanan kesehatan masyarakat telah hancur parah dan tidak dapat digunakan lagi.</p>
<p>Namun Endang dan rekan-rekannya tidak meninggalkan masyarakat. Mereka tetap berada di sana. Tetap berjaga. Tetap melayani.</p>
<p>Tetap memberikan pertolongan meski tempat mereka bekerja telah berubah menjadi puing.</p>
<p>“Setiap hari kami stay di posko tenda darurat yang dibuatkan dari kayu dan beratapkan terpal. Pustu tersebut hanya tinggal puing-puing saja,” tuturnya.</p>
<p>Ada satu kalimat Endang yang begitu dalam menggambarkan kehilangan tersebut.</p>
<p>Artikel <a rel="nofollow" href="https://nttnews.net/daerah/di-balik-puing-pustu-bea-waek-bidan-yang-terluka-tetap-bertahan-melayani-warga-korban-gempa/">Di Balik Puing Pustu Bea Waek, Bidan yang Terluka Tetap Bertahan Melayani Warga Korban Gempa</a> pertama kali tampil pada <a rel="nofollow" href="https://nttnews.net">NTT News</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Tim SAR Gabungan Berjibaku Evakuasi Korban Gempa Manggarai Timur, Tujuh Korban Luka Berat Diterbangkan ke Labuan Bajo</title>
		<link>https://nttnews.net/daerah/tim-sar-gabungan-berjibaku-evakuasi-korban-gempa-manggarai-timur-tujuh-korban-luka-berat-diterbangkan-ke-labuan-bajo/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[NTTNews.Net]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 18 Aug 2026 10:22:16 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Daerah]]></category>
		<category><![CDATA[Basarnas]]></category>
		<category><![CDATA[Flores]]></category>
		<category><![CDATA[Gempa Bumi]]></category>
		<category><![CDATA[Helikopter]]></category>
		<category><![CDATA[Korban Gempa]]></category>
		<category><![CDATA[Labuan bajo]]></category>
		<category><![CDATA[Manggarai Timur]]></category>
		<category><![CDATA[Nusa Tenggara Timur]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://nttnews.net/?p=9253</guid>

					<description><![CDATA[<p>BORONG, NTTNEWS.NET &#8211; Duka dan kepedihan masih menyelimuti Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur, setelah...</p>
<p>Artikel <a rel="nofollow" href="https://nttnews.net/daerah/tim-sar-gabungan-berjibaku-evakuasi-korban-gempa-manggarai-timur-tujuh-korban-luka-berat-diterbangkan-ke-labuan-bajo/">Tim SAR Gabungan Berjibaku Evakuasi Korban Gempa Manggarai Timur, Tujuh Korban Luka Berat Diterbangkan ke Labuan Bajo</a> pertama kali tampil pada <a rel="nofollow" href="https://nttnews.net">NTT News</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>BORONG, NTTNEWS.NET &#8211; </strong>Duka dan kepedihan masih menyelimuti Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur, setelah gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 mengguncang wilayah Flores pada 15 Agustus 2026. Di tengah kepanikan dan keterbatasan akses, Tim SAR Gabungan terus berjibaku menyelamatkan warga yang menjadi korban.</p>
<p>Sejak gempa terjadi, para personel Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) bersama TNI, Polri, tenaga medis, dan potensi SAR lainnya tidak berhenti bergerak. Di tengah medan yang sulit dan kondisi korban yang membutuhkan pertolongan segera, setiap menit menjadi sangat berharga.</p>
<p>Salah satu upaya yang terus dilakukan adalah mengevakuasi korban dengan kondisi luka berat dari wilayah terdampak di Manggarai Timur menuju Labuan Bajo agar mendapatkan penanganan medis lebih lanjut di RSUD Pratama Komodo.</p>
<p>Hingga Selasa (18/8/2026) pukul 15.00 WITA, sebanyak tujuh korban luka berat berhasil dievakuasi melalui jalur udara. Para korban mengalami berbagai cedera serius, mulai dari patah tulang, dislokasi, trauma vertebralis, hingga luka parah pada bagian tangan.</p>
<p>Di balik angka tujuh korban tersebut, tersimpan kisah perjuangan panjang para petugas yang harus berpacu dengan waktu untuk menyelamatkan nyawa. Korban yang sebelumnya berada di tengah wilayah terdampak harus segera dipindahkan menuju fasilitas kesehatan yang memiliki kemampuan penanganan lebih memadai.</p>
<p>Kepala Basarnas, Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii, mengatakan evakuasi dilakukan secara bertahap dengan tetap memprioritaskan korban yang membutuhkan penanganan medis segera.</p>
<p>“Hingga pukul 15.00 WITA, Tim SAR Gabungan telah mengevakuasi tujuh korban gempa dengan kondisi luka berat. Evakuasi dilakukan dalam dua kloter. Kloter pertama menggunakan Helikopter Dauphin dengan membawa tiga korban dan tim medis, sementara kloter kedua membawa empat korban,” ujar Mohammad Syafii.</p>
<p>Helikopter Dauphin terus disiagakan dan dioperasikan secara intensif untuk menjangkau wilayah yang terdampak paling parah, khususnya di Kabupaten Manggarai Timur. Jalur udara menjadi pilihan penting ketika kondisi medan dan akses darat menjadi kendala dalam proses penyelamatan.</p>
<p>Bagi para korban, suara baling-baling helikopter bukan sekadar suara mesin di udara. Di tengah rasa sakit, ketakutan, dan ketidakpastian, kedatangan tim SAR menjadi harapan untuk bisa mendapatkan pertolongan dan kesempatan untuk bertahan hidup.</p>
<p>Artikel <a rel="nofollow" href="https://nttnews.net/daerah/tim-sar-gabungan-berjibaku-evakuasi-korban-gempa-manggarai-timur-tujuh-korban-luka-berat-diterbangkan-ke-labuan-bajo/">Tim SAR Gabungan Berjibaku Evakuasi Korban Gempa Manggarai Timur, Tujuh Korban Luka Berat Diterbangkan ke Labuan Bajo</a> pertama kali tampil pada <a rel="nofollow" href="https://nttnews.net">NTT News</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
