Menurutnya, keterlibatan pemerintah, dunia usaha, perguruan tinggi, dan komunitas lokal menjadi kunci keberhasilan program ini.
“Expo ini bukan sekadar lomba atau pameran karya. Ini adalah instrumen pembangunan pendidikan yang mengintegrasikan budaya lokal, literasi, dan karakter dalam proses belajar-mengajar. Dengan pendekatan berbasis data dan regulasi, kami pastikan program ini akuntabel dan berkelanjutan,” ujar Andreas.
Tahun ini, expo mengusung tema “Berpikir Kritis, Bertindak Hebat, Tumbuhkan Generasi Matim Cerdas”. Rangkaian acaranya meliputi parade budaya, pameran karya siswa, pertunjukan literasi, debat, vokal grup, hingga kompetisi mini vlog edukatif.
Semua kegiatan dirancang untuk mengasah kemampuan berpikir kritis, keterampilan komunikasi, kreativitas, serta menanamkan rasa bangga terhadap budaya daerah.
Dukungan mitra strategis seperti Yayasan Pendidikan Astra Michael D. Ruslim (YPA-MDR), Universitas Katolik Soegijapranata Semarang, dan UKI St. Paulus Ruteng semakin memperkuat dampak positif program ini.
Kehadiran mitra tersebut tidak hanya dalam bentuk dukungan moral, tetapi juga melalui kontribusi nyata pada pengembangan kurikulum, pelatihan guru, dan penyediaan sarana pendukung pembelajaran.
Pemerintah optimistis Expo Literasi dan Budaya Pendidikan Manggarai Timur akan menjadi tonggak pembaruan sistem pendidikan lokal yang mampu direplikasi di tingkat provinsi bahkan nasional.
Lebih dari sekadar agenda tahunan, expo ini diharapkan menjadi gerakan bersama untuk mencetak generasi Matim yang cerdas, berkarakter, dan berdaya saing global tanpa meninggalkan akar budayanya. **
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.









