Tak hanya insiden di lintasan, kekacauan juga terjadi saat podium utama tempat Bupati Nagekeo, Wakil Bupati, dan sejumlah anggota DPRD duduk, mendadak roboh. Suara teriakan penonton kembali terdengar saat satu per satu orang melompat menyelamatkan diri dari runtuhnya podium tersebut.
“Ini pertanda yang tidak baik. Kita dikejutkan dengan momen haru biru, antara kegembiraan dan kesedihan. Jangan lupa, tempat ini punya nilai budaya dan sejarah,” kata Emanuel, salah satu tokoh masyarakat yang hadir di lokasi.
Menurutnya, kejadian ini menjadi pengingat bahwa kegiatan seremonial dan budaya seperti pacuan kuda harus dilakukan dengan penuh kehati-hatian dan penghormatan terhadap leluhur.
“Jangan sampai kita lupa bahwa tanah ini ada tuannya. Kita harus hormat kepada para pendahulu kita yang lebih dulu hidup di sini,” tegas Emanuel.
Ia juga mendesak agar panitia penyelenggara bersama Pengurus Pordasi dan Pemerintah Daerah mengevaluasi sistem pelaksanaan pacuan kuda agar lebih memperhatikan prosedur standar operasional (SOP), khususnya aspek keselamatan.
“Pacuan kuda ini berisiko tinggi. Jangan remehkan nyawa manusia, apalagi anak-anak. Utamakan keselamatan para peserta agar kejadian seperti ini tidak terulang,” pungkasnya.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari panitia pelaksana terkait insiden tersebut. **
Reporter : Stefan
Editor : Redaksi
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.









