Terpisah, dalam wawancara dengan media ini pada Sabtu malam (11/01/2025) usai melapor ke Polres Manggarai Barat, EK menjelaskan awal mula kejadian tersebut.
Menurut EK, konflik bermula ketika suaminya mengambil alih ponselnya secara paksa.
“Dia ambil HP saya pagi itu sekitar jam 07.00 pagi. Bocil (anak kami) yang awalnya memegang HP itu, lalu dia tukarkan HP-nya dengan HP saya. Dia langsung buka WhatsApp dan membaca semua chat saya dengan seorang teman dari Bank BRI. Semua pesan itu dia yang jawab,” ujar EK.
EK menjelaskan bahwa pria berinisial N, yang menjadi lawan bicara di WhatsApp, adalah pegawai Bank BRI yang membantunya mengurus pengajuan kredit.
“Saya sudah jelaskan kalau hubungan saya dengan dia hanya sebatas nasabah dan petugas bank. Tidak ada yang lain. Tapi suami tetap tidak percaya. Dia terus bertanya, ‘Apa hubunganmu dengan dia? Apakah kamu selingkuh?’ Saya jawab, tidak ada apa-apa,” tambahnya.
Namun, penjelasan tersebut tidak diterima AAS. Ia memukul EK hingga empat kali, membanting ponselnya hingga pecah, dan membuang kartu SIM milik EK.
“Saya hanya minta kartu SIM saya dikembalikan karena ada keperluan penting. Tapi dia tetap tidak mau kasih. Dia bilang sudah membuangnya,” cerita EK.
Puncak kekerasan terjadi ketika EK mencoba membela diri setelah dipukul berulang kali.
“Saya dicekik, dipukul, sampai akhirnya saya ambil pisau yang ada di meja laundry untuk menghentikannya. Saya tidak bermaksud melukai, tapi hanya membela diri,” katanya.
Baik EK maupun AAS kini sama-sama melaporkan kejadian ini ke Polres Manggarai Barat dengan bukti Syarat Tanda Terima Laporan Nomo: STTPL/11/12025/SPKT/POLRES MANGGARAI BARAT/POLDA NUSA TENGGARA TIMUR. EK mengaku sebagai korban kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) yang dilakukan suaminya.
“Saya lapor karena tidak tahan lagi dengan tindakan main tangan dia. Dia yang mulai memukul duluan, membanting ponsel saya, dan menuduh saya macam-macam. Pisau itu saya ambil karena sudah terdesak untuk melindungi diri,” tegas EK.
Sementara itu, N, pria yang disebut dalam percakapan WhatsApp tersebut, memberikan klarifikasi kepada media.
“Saya hanya menanyakan kabar dia (EK) terkait pengajuan kredit. Pesan-pesan saya tidak dibalas, jadi saya ulang bertanya. Tidak ada niat untuk hal-hal lain. Belakangan saya baru tahu kalau suaminya yang membalas pesan-pesan saya,” jelas N.
Menurut N, tidak ada ajakan bertemu dari pihaknya maupun komunikasi yang mencurigakan.
“Ini hanya miskomunikasi. Saya sudah berencana bertemu dengan keluarga besar mereka untuk menjelaskan semuanya, tetapi belum sempat bertemu karena ada alasan tertentu,” ujarnya. **
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.









