Scroll Ke bawah untuk melanjutkan

Warga Keliwatuwea Hidup dalam Kegelapan: 80 Tahun Merdeka, Listrik Tak Kunjung Datang

Kontributor : Stefan Editor: Tim Redaksi
  • Bagikan
IMG 20251016 140528
Dusun Keliwatuwea, sebuah dusun terpencil di wilayah Desa Keli, Kecamatan Keo Tengah, Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT), hingga kini masih terisolasi dari salah satu kebutuhan paling dasar: listrik. (foto : isth).

NAGEKEO, NTTNEWS.NET – Dusun Keliwatuwea, sebuah dusun terpencil di wilayah Desa Keli, Kecamatan Keo Tengah, Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT), hingga kini masih terisolasi dari salah satu kebutuhan paling dasar: listrik.

Masyarakat di dusun ini hidup sepenuhnya bergantung pada sektor pertanian, namun potensi tersebut sulit berkembang karena minimnya akses infrastruktur dan penerangan.

Dengan luas wilayah mencapai 7,112 km² dan jumlah penduduk 266 jiwa (146 laki-laki dan 120 perempuan) yang terbagi dalam 55 kepala keluarga, Keliwatuwea belum tersentuh aliran listrik sejak Indonesia merdeka. Ketiadaan penerangan ini membuat aktivitas warga sangat terbatas, terutama pada malam hari.

“Sejak dusun Keliwatuwea terbentuk sampai sekarang, kami belum pernah merasakan cahaya listrik. Kami hidup dalam kegelapan setiap malam,” ungkap Engelbertus, salah satu tokoh masyarakat setempat.

Potensi Besar yang Terkunci dalam Keterbatasan

Secara geografis, Keliwatuwea termasuk kategori wilayah sangat terpencil. Akses menuju dusun hanya bisa ditempuh dengan berjalan kaki sejauh lima kilometer melalui jalur menanjak dan berbatu.

Baca Juga :  Pasien Digigit Kalajengking Diduga Diblacklist RS Siloam Labuan Bajo, Apa Apa?

Namun, di balik keterpencilan itu, masyarakat memiliki potensi ekonomi yang menjanjikan. Komoditas unggulan seperti cengkeh, kemiri, pinang, vanili, dan berbagai tanaman palawija tumbuh subur di wilayah ini.

“Kreativitas masyarakat di bidang keterampilan sebenarnya sangat tinggi, tetapi terbentur peralatan yang tidak modern dan membutuhkan listrik. Kalau saja ada listrik dan akses transportasi yang baik, kami bisa lebih bersemangat mengembangkan keterampilan,” tutur Engelbertus berharap.

Selain potensi alam, Keliwatuwea juga menyimpan kekayaan budaya dan tradisi yang masih terjaga. Setiap tahun masyarakat setempat rutin melaksanakan ritual adat sebagai bagian dari warisan leluhur.

Kegelapan yang Tak Pernah Usai

Menjelang malam, suasana di dusun ini berubah senyap. Cahaya bintang menjadi satu-satunya penerang di langit Keo Tengah.

Baca Juga :  Hakim Putuskan Sengketa Tanah Karangan, Gugatan Mustarang dan Abdul Haji Ditolak

Di dapur-dapur berdinding bambu, warga menyalakan pelita dengan minyak tanah seadanya. Satu per satu lampu minyak kecil dipasang di sudut rumah, menciptakan cahaya redup yang beradu dengan sinar bintang.

Aris, warga dusun, tampak terbiasa menyalakan pelita setiap sore menjelang pukul enam. Dengan tangan kasar dan wajah letih, ia meneteskan minyak tanah ke dalam wadah kaleng kecil, lalu menyalakannya dengan pemantik gas.

“Kegelapan ini bukan sekadar suasana, tapi sudah menjadi batasan hidup kami. Anak-anak sulit belajar, aktivitas ekonomi berhenti, bahkan guru-guru harus ke desa tetangga yang ada listrik hanya untuk urusan administrasi,” ujar Aris lirih.

Ketiadaan listrik sudah berlangsung turun-temurun. Warga menyebut janji pembangunan listrik sudah sering mereka dengar dari para pejabat dan politisi yang datang silih berganti. Namun, hingga kini janji itu belum pernah ditepati.

  • Bagikan