Scroll Ke bawah untuk melanjutkan

Makna 17 Agustus di Mata Pendidik dan ODGJ

Kontributor : Venansensius Santayi Editor: Redaksi
  • Bagikan
FB IMG 1755517212229
Venansensius Santayi, S.Pd, (Guru SDI Watu wangka, Kecamatan Pacar, Kabupaten Manggarai Barat, NTT). (foto : isth).

Namun, bagi seorang “orang gila” yang kerap berjalan tanpa arah di jalanan, 17 Agustus justru bermakna lain. Kemerdekaan baginya adalah kebebasan menari tanpa aturan, tertawa tanpa alasan, dan bersorak tanpa protokol.

Ia melihat bendera merah putih yang berkibar bukan hanya sebagai simbol negara, melainkan kain raksasa yang menutupi luka, nestapa, dan keterasingan hidupnya.

Di titik itulah keduanya bertemu: pendidik dengan keteraturannya, orang gila dengan kebebasannya. Meski dari jalan berbeda, mereka sampai pada pengertian yang sama: bahwa 17 Agustus adalah hari ketika semua manusia—waras atau dianggap tak waras, pandai atau sederhana—berhak merasa merdeka.

Hari kemerdekaan adalah momen di mana setiap jiwa bebas menyalakan cahaya di hatinya, dengan cara dan bahasa masing-masing. Dan justru dari keberagaman itulah, Indonesia menemukan makna merdekanya yang sejati. **

  • Bagikan