Namun, bagi seorang “orang gila” yang kerap berjalan tanpa arah di jalanan, 17 Agustus justru bermakna lain. Kemerdekaan baginya adalah kebebasan menari tanpa aturan, tertawa tanpa alasan, dan bersorak tanpa protokol.
Ia melihat bendera merah putih yang berkibar bukan hanya sebagai simbol negara, melainkan kain raksasa yang menutupi luka, nestapa, dan keterasingan hidupnya.
Di titik itulah keduanya bertemu: pendidik dengan keteraturannya, orang gila dengan kebebasannya. Meski dari jalan berbeda, mereka sampai pada pengertian yang sama: bahwa 17 Agustus adalah hari ketika semua manusia—waras atau dianggap tak waras, pandai atau sederhana—berhak merasa merdeka.
Hari kemerdekaan adalah momen di mana setiap jiwa bebas menyalakan cahaya di hatinya, dengan cara dan bahasa masing-masing. Dan justru dari keberagaman itulah, Indonesia menemukan makna merdekanya yang sejati. **
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.









