Oleh: Sil Joni*
LABUAN BAJO, NTTNEWS.NET – Proses kandidasi untuk kontestasi Pilkada Mabar hampir mendekati titik terang. Memang, sampai detik ini, belum bisa dipastikan ada berapa pasangan calon (paslon) yang berlaga dalam ajang perebutan kursi kuasa itu. Namun, aneka narasi seputar ‘kelebihan figur’, termasuk umur, berseliweran di ruang publik.
Dari sisi naluriah, kita cenderung tertarik dengan ‘yang muda’. Tampilan lahiriah dari ‘yang muda’ itu, biasanya begitu memesonana sehingga hati kita ‘terpikat’ padanya. Ada semacam ‘sisi plus’ yang kerap memancar dari ‘yang muda’ itu. Sekedar contoh, umumnya para ‘pemburu nafsu seks’, selalu terobsesi dan jatuh dalam pelukan ‘daun muda’. Jika disuruh memilih antara yang tua dan muda, setidaknya dalam dunia asmara, kebanyakan kita tak ragu menjatuhkan pilihan pada ‘yang muda’.
Namun, rupanya ‘perangkat instingtual’ itu tak selalu beroperasi secara optimal dalam domain politik. Tidak ada garansi bahwa yang muda ‘menjadi idola’ para pemilih ketika musim pertarungan politik tiba. Manggarai Barat bisa dijadikan contoh perihal kebenaran dari asumsi di atas. Dari Pilkada ke Pilkada, sosok politik yang relatif muda usia, tak mendapat dukungan suara signifikan dari publik.
Kendati demikian, diskursus tentang ‘usia para kandidat’ tak pernah surut dalam setiap perhelatan Pilkada. Isu itu terus dieksploitasi untuk sekadar memengaruhui opini publik dan serentak membunuh karakter para rival politik. Saat ini, ada yang dengan gagah ‘menggotong wacana itu’ dalam panggung politik lokal yang tengah mempersiapkan diri untuk menghadapi pertempuran politik pada tahun 2024 ini.
Pertanyannya adalah apakah ada ‘korelasi’ yang tegas antara usia seseorang dengan ‘mutu leadership’ yang diperlihatkannya? Benarkah bahwa pemimpin politik yang berusia muda ‘lebih superior’ dalam hal menerapkan kepemimpinan yang efektif? Apakah ‘pengagungan’ unsur usia di musim kontestasi ini dilatari oleh ‘studi empiris-ilmiah’ atau sekadar asumsi yang belepotan dengan interes politik parsial? Mengapa isu ‘usia kandidat bupati’ terus digoreng dalam masa persiapan menjelang pelaksanaan Pilkada Mabar?
Perang narasi dan wacana soal usia sang jagoan politik begitu menguat di berbagai forum diskusi publik terutama di kanal media sosial. Ada kelompok yang mengklaim bahwa figur kesayangannya ‘lebih hebat dan pas’ untuk menjadi bupati Mabar sebab usianya masih muda. Mabar menurut mereka membutuhkan sosok bupati yang energik, progresif, dan segar dari sisi umur. Ribuan asumsi (anggapan) dibentangkan untuk menjustifikasi tesis itu.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.









