“Mungkin penjara empat tahun tidaklah cukup untuk menghilangkan paham itu, apalagi di penjara kita sering berjumpa banyak kelompok radikal,” katanya.
Yanto menekankan peran orang tua, guru, serta lingkungan sosial dalam menjaga generasi muda.
“Peran guru itu sangat besar, terutama dengan menanamkan nilai kebinekaan dan nasionalisme dalam diri siswa,” ujarnya.
Ia juga memperingatkan bahwa anak yang mengalami perundungan atau pengabaian lebih mudah direkrut kelompok radikal.
Selain itu, Yanto memaparkan struktur gerakan JI yang bekerja secara senyap.
“Gerakan JI itu senyap. Mereka masuk ke kampus, sekolah, dan tokoh masyarakat,” ungkapnya.
Tujuan akhir gerakan tersebut, katanya, adalah mengambil alih kekuasaan negara melalui strategi kekacauan.
“Ketika negara kacau, mereka ambil alih. Contohnya Afganistan dan Suriah. Jangan sampai Indonesia seperti itu,” tegasnya.
Memasuki materi inti, IPTU Silvester memaparkan perubahan strategi Densus 88 sejak 2020. Menurutnya, penindakan keras saja tidak cukup.
“Pendekatan keras tidak menurunkan angka terorisme secara signifikan. Maka kami ubah strategi dengan membangun kesadaran masyarakat. Hasilnya, dua tahun terakhir Indonesia mencapai zero attack,” jelasnya.
Ia juga menjelaskan bahwa UU No. 5 Tahun 2018 menugaskan Densus 88 mendampingi tersangka maupun eks pelaku terorisme.
Silvester kemudian menjelaskan bagaimana seseorang berubah dari intoleran menjadi teroris.
“Jika diibaratkan sebatang pohon, intoleran adalah akar, radikalisme adalah batang, dahan dan ranting, sedangkan terorisme adalah buahnya,” ujarnya.
Ia menguraikan bahwa kelompok radikal memanfaatkan perkembangan teknologi untuk rekrutmen, termasuk melalui media sosial dan game online seperti Free Fire dan Roblox.
“Dari sering bermain game bersama, kemudian dibuatkan komunitas melalui grup WhatsApp atau Telegram. Lama kelamaan, indoktrinasi dilakukan pelan-pelan hingga seseorang dicuci otaknya,” bebernya.
Dalam sesi tanya jawab, Pastor Teri, SVD, menyampaikan kegelisahannya terkait maraknya pesta mabuk di kalangan remaja dan berharap adanya edukasi karakter dari Densus 88.
Silvester menjawab: “Apabila diundang untuk memberikan edukasi, kami sangat siap dalam waktu 1×24 jam.”
Tokoh masyarakat Romanus Rasi turut memberikan apresiasi terhadap pemulihan Yanto.
“Pak Yanto ini anak yang hilang dan sudah kembali. Negara harus memberi apresiasi,” ujarnya.
Beberapa siswa dan guru juga mengajukan pertanyaan, mulai dari pola rekrutmen, efektivitas terorisme sebagai alat politik, hingga mengapa orang berpendidikan tetap bisa terpengaruh. Yanto dan Silvester menjawab seluruhnya dengan lugas.
Menutup kegiatan, Camat Ponsianus kembali mengajak semua pihak menjaga kehidupan sosial yang rukun.
“Kami bersyukur saudara Yanto telah kembali dan dapat membantu kita semua menjaga Elar ini. Harapannya kita tangguh terhadap dampak intoleransi, radikalisme, ekstremisme, dan terorisme,” ujarnya.
Kegiatan ditutup dengan komitmen bersama bahwa seluruh unsur masyarakat — keluarga, sekolah, tokoh agama, pemerintah, dan aparat keamanan — harus menjadi benteng sosial untuk melindungi generasi muda dari ideologi yang mengancam persatuan bangsa. **
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.









