Scroll Ke bawah untuk melanjutkan

Diduga Akibat Penganiyaan Berat Seorang IRT Asal Mabar Meninggal di Satarmese

  • Bagikan
Point Blur Jul112024 105305
Diduga Akibat Penganiyaan Berat Seorang IRT Asal Mabar Meninggal di Satarmese. (foto : isth).

Alfonsius memanggil suaminya Yusintus Tua untuk menjelaskan terkait beberapa luka lebam dalam tubuh korban. Setelah diajak bicara menurut Alfonsius, suami korban menceritakan, pagi Rabu 26 Juni 2024, korban dan suami korban sempat cek-cok yang berujung adu fisik.

“Pagi hari itu, kata suaminya, ada anjing di dekat tungku api. Karena korban takut dengan anjing, dia minta anaknya perempuan berumur 4 tahun untuk memanggil suaminya. Karena tak kunjung datang, akhirnya korban sendiri (Anastasia Jelita) memanggil suaminya sambil marah-marah. Tak terima perilaku korban, suami korban menampar istrinya”, kata Alfonsius berdasarkan cerita suami korban.

Setelah itu, menurut Alfonsius suami korban (Yusintus Tua) pergi ke kebun. Tak berselang lama telepon dari kelurga kalau Istrinya meninggal dan diantar ke rumah sakit.

Baca Juga :  RSUD Komodo Resmi Gelar Onsite Training SIM-RS, Dorong Transformasi Digital Layanan Kesehatan

Pengakuan Suami korban ke Alfonsius, luka lebam di dahi, karena suami korban tak terima dengan kematian istrinya. Kekecewaan Suami, karena istrinya meninggal membuat gerakan refleks, sehingga menonjok dahi korban. Sementara itu, kata Alfonsius terkait dengan luka dibibir dan punggung, suami korban tidak bisa menjelaskan dengan baik.

Pengakuan Berbeda Pihak Puskesmas Ponggeok

Alfonsius mendatangi pihak Puskemas Ponggeok, Kamis 27 Juni 2024. Menurut pengakuan pihak Puskesmas, bahwa kematian korban Anastasia Jelita karena minum racun.

Lebih lanjut, Alfonsius menceritakan bahwa pengakuan Pihak Puskesmas Ponggeok bukan karena hasil pemeriksaan medis secara lengkap, tapi pengakuan suami korban saat mengantar korban ke Puskesmas.

Baca Juga :  Tak Main-Main! PSI Manggarai Barat Siapkan Kekuatan Penuh Rebut 2029

Selain itu, luka lebam di dahi korban, menurut pihak Puskesmas Ponggeok kata Alfonsius, bahwa saat meninggal tangan korban berposisi sandar di dahi.

Alfonsius mempertanyakan luka dibibir dan di Punggung. Pihak Puskesmas Ponggeok menjelaskan, Bahwa saat korban tiba di Puskesmas, korban dalam keadaan tak bernyawa. Sehingga membuat pihak puskesmas tidak memeriksa lengkap.

Lapor ke Polres Manggarai

Alfonsius dan pihak keluarga, tidak terima dengan kematian korban. Sehingga berniat melapor resmi ke Polres Manggarai didampingi Pengacara. Alfonsius dan ayah korban meminta ke Polres Manggarai, untuk membuka terang peristiwa kematian anaknya. Dan saat ini, kasus kematian Ibu Anastasia Jelita sedang ditangani Polres Manggarai.**

  • Bagikan