“Di mana letak nilai kebersamaan dan semangat kebangsaan jika hanya satu agama yang mendapat porsi istimewa dalam rangkaian acara nasional? Ini berisiko mencederai semangat toleransi yang selama ini terjalin baik di Ende,” ujarnya.
Andri menyarankan agar kegiatan keagamaan dalam rangka Hari Lahir Pancasila dikemas dalam bentuk yang lebih inklusif, seperti Doa Bersama Lintas Agama atau Misa Syukur Kebangsaan. Dengan demikian, perayaan tersebut bisa dirasakan oleh seluruh elemen masyarakat tanpa menimbulkan eksklusivitas.
“Jika tidak dicantumkan secara spesifik sebagai Festival Maria Guadalupe dan diganti dengan kegiatan doa kebangsaan, tentu masyarakat akan lebih menerima. Ini soal sensitivitas dan semangat persatuan,” tambahnya.
Atas dasar itu, HMI Cabang Ende menyatakan sikap menolak dimasukkannya Festival Maria Guadalupe dalam agenda resmi peringatan Hari Lahir Pancasila.
“Kami bukan tidak menghargai tradisi keagamaan tertentu. Tapi 1 Juni adalah momen kebangsaan, bukan perayaan keagamaan. Menggabungkan keduanya tanpa dasar yang jelas berisiko merusak marwah Pancasila itu sendiri,” tegas Andri.
HMI berharap Bupati Ende dapat bersikap lebih terbuka terhadap kritik dan masukan dari berbagai pihak demi menjaga harmoni dan toleransi yang telah lama terjaga di Kabupaten Ende.
“Jangan biarkan semangat kebangsaan tereduksi oleh kepentingan kelompok tertentu. Kembalikan esensi Hari Lahir Pancasila sebagai perayaan seluruh rakyat Indonesia, tanpa diskriminasi,” pungkasnya. ** (Rian Laka).
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.









