Menurutnya, kondisi geografis Desa Wae Mowol yang memiliki kemiringan tanah cukup tinggi membutuhkan perhatian khusus terhadap kelestarian lingkungan.
Ia menyoroti praktik pembukaan lahan yang tidak terkendali serta penggunaan pestisida berlebihan yang perlahan merusak struktur tanah.
“Kita harus jujur melihat kondisi alam kita. Penggunaan pestisida secara berlebihan dan pembukaan lahan tanpa perhitungan membuat tanah menjadi rapuh dan tidak mampu menahan air,” tegasnya.
Fridus mengajak warga untuk kembali menanam vegetasi alami dan menjaga keseimbangan lingkungan sebagai langkah pencegahan agar bencana serupa tidak terulang di masa mendatang.
Gotong Royong Bangkit dari Duka
Sementara itu, Kepala Desa Wae Mowol, Florianus Hibur, menyampaikan rasa terima kasihnya atas kehadiran dan perhatian Anggota DPRD tersebut.
Ia mengaku kehadiran Fridus memberikan semangat baru bagi warga yang sedang dilanda kesedihan.
“Kami sangat berterima kasih. Beliau tidak hanya datang membawa bantuan, tetapi juga membawa perhatian dan solusi pemikiran untuk keamanan kampung kami ke depan,” kata Florianus.
Ia berharap adanya dukungan lanjutan dari pemerintah daerah, baik dalam bentuk bantuan darurat maupun program penataan lingkungan dan relokasi jika diperlukan.
Kini, di tengah sisa lumpur dan bebatuan, warga Desa Wae Mowol berusaha bangkit. Dengan semangat gotong royong, mereka saling menguatkan, memastikan tidak ada satu pun keluarga yang berjalan sendirian melewati lembah duka akibat bencana ini. **
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.









