Scroll Ke bawah untuk melanjutkan

Kapolsek dan Ibu Bhayangkari Polsek Komodo Dampingi Wartawan di HPN 2026

Kontributor : Redaksi Editor: Tim Redaksi
  • Bagikan
IMG 20260211 225111
Peringatan Hari Pers Nasional (HPN) 9 Februari 2026 di Manggarai Barat tidak hanya diwarnai seremoni dan potong tumpeng. Aliansi Wartawan Manggarai Barat (AWAMB) memilih merayakannya dengan aksi nyata: menyambangi sekolah dasar terpencil dan berbagi perlengkapan belajar bagi anak-anak yang membutuhkan. (foto : isth).

Hal senada disampaikan Plt Kepala SDN Jati Makmur, Abdul Karim. Ia mengaku bantuan tersebut sangat berarti bagi siswa yang sebagian besar berasal dari keluarga dengan keterbatasan ekonomi.

“Anak-anak sangat senang mendapat buku. Ini sangat membantu sekali. Kami berharap perhatian seperti ini terus berlanjut,” katanya.

Namun, di balik rasa syukur itu, Abdul Karim membuka realitas pahit yang dihadapi sekolahnya. Persoalan utama bukan hanya kekurangan alat tulis, melainkan akses jalan menuju sekolah yang sangat sulit dilalui.

“Jalan ke sekolah sangat memprihatinkan. Itu yang paling berat. Kami berharap bisa diperhatikan agar akses lebih lancar,” ungkapnya.

Selain itu, krisis air bersih masih menjadi masalah serius. Listrik memang sudah tersedia, tetapi air minum layak belum memadai. Kondisi bangunan pun belum sepenuhnya layak: dua ruang kelas mengalami kerusakan pada lantai dan dinding, namun tetap digunakan karena keterbatasan ruang.

Baca Juga :  Wabup Yulianus Weng Resmi Membuka MTQ Kecamatan Komodo Ke-31

Mantan Kepala SDN Jati Makmur, Maximus Madun Da Sales, mengenang perjuangan panjang berdirinya sekolah tersebut. Sekolah ini dirintis sejak 2001 bersama masyarakat, bahkan sebelum Manggarai Barat menjadi kabupaten definitif.

“Tahun 2001 kami bersama orang tua mengusulkan pendirian sekolah ke Dinas Pendidikan di Ruteng. Waktu itu belum ada Kabupaten Manggarai Barat. Perjuangannya panjang,” tuturnya.

Proses belajar mengajar dimulai sekitar 2002 sebagai kelas jauh dari SD induk, dan pada 2008 resmi berstatus SD Negeri.

Meski kini telah berdiri sebagai sekolah negeri, tantangan belum berakhir. Akses jalan sepanjang kurang lebih dua kilometer dari pertigaan menuju kampung dan sekolah masih menjadi hambatan utama.

“Harapan kami Pemda bisa membantu, baik jalan maupun air minum. Itu kebutuhan mendasar kami,” tegasnya.

Kegiatan AWAMB di Tiwu Nampar menghadirkan potret kontras: di satu sisi, geliat pembangunan pariwisata premium Labuan Bajo; di sisi lain, realitas pendidikan di pelosok yang masih berjuang dengan jalan rusak, ruang kelas retak, dan keterbatasan air bersih.

Baca Juga :  Ini Bukan Konservasi! AWSTAR Serang Kebijakan Kuota di Taman Nasional Komodo

HPN 2026 di Manggarai Barat pun menjadi lebih dari sekadar perayaan kebebasan pers. Ia menjelma menjadi momentum untuk menyuarakan suara pinggiran—tentang anak-anak yang berjalan dua kilometer melewati jalan rusak, tentang ruang kelas yang lantainya hancur, dan tentang harapan sederhana: buku, air bersih, dan akses yang layak.

Di tengah segala keterbatasan itu, semangat belajar anak-anak Tiwu Nampar tetap menyala. Dan di Hari Pers Nasional tahun ini, buku-buku kecil yang dibagikan menjadi simbol bahwa harapan akan selalu ada, selama masih ada yang peduli dan mau turun langsung ke lapangan. **

  • Bagikan