Semua disajikan dengan keaslian dan kelezatan yang membuat lidah bergoyang.
Yopi menegaskan bahwa pengelolaan tempat ini sepenuhnya dilakukan oleh masyarakat setempat tanpa campur tangan pihak lain.
“Kami menanggung segala kebutuhan operasional, mulai dari air, listrik, hingga perawatan tempat. Semua dilakukan secara gotong royong oleh pemilik kuliner yang berjumlah sekitar 46 grobak atau rombong jualan di sini,” jelas Yopi.
Meski begitu, Yopi berharap agar pemerintah setempat segera turun tangan untuk mengelola LLBK secara resmi.
“Kami berharap pihak pemerintah segera mengelola tempat ini agar semua bisa tertata dengan baik, termasuk fasilitas dan kondisi bangunan,” tambahnya.
Namun, Yopi juga mengekspresikan kekecewaannya terhadap pembangunan gedung-gedung yang terbengkalai dan tidak memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
“Kami sangat kecewa dengan pembangunan yang tak berujung ini. Pembangunan gedung kuliner tanpa manfaat nyata adalah pemborosan anggaran yang sangat disayangkan,” tegas Yopi.
Dengan segala potensinya, LLBK tidak hanya menjadi destinasi kuliner yang menggoda, tetapi juga cerminan dari semangat gotong royong dan keinginan untuk memberikan yang terbaik bagi masyarakat lokal dan para pengunjung. **
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.









