Meski menghadapi banyak tantangan seperti keterbatasan jaringan, kondisi jalan yang rusak, keterbatasan alat seperti kamera dan kendaraan, Ejhi tetap semangat menjalankan tugasnya.
“Kadang saya sewa motor tetangga untuk menjangkau mereka. Saya potret pakai HP seadanya. Untuk unggah berita pun sering terhambat jaringan. Tapi saya tetap jalani karena semua ini saya lakukan dengan niat tulus,” katanya.
Ia menekankan pentingnya melibatkan Tuhan dalam setiap upaya.
“Saya percaya, kalau kita libatkan Tuhan, maka semuanya dimudahkan. Terima kasih kepada Tuhan dan orang-orang baik yang mau membantu saya menyuarakan kisah mereka,” imbuhnya.
Menurut Ejhi, wartawan memiliki peran penting dalam membantu penyandang disabilitas, termasuk anak-anak yang membutuhkan kursi roda. Berikut beberapa langkah yang ia lakukan:
1. Meliput dan Mengangkat Kisah: Menyampaikan kisah hidup mereka melalui media massa untuk menggugah kepedulian publik.
2. Menjembatani dengan Donatur dan Pemerintah: Menghubungkan pihak yang membutuhkan dengan lembaga atau individu yang bisa membantu.
3. Mendorong Aksi Sosial: Menginisiasi gerakan atau kampanye penggalangan dana untuk bantuan konkret.
4. Meningkatkan Kesadaran Publik: Menyampaikan pentingnya alat bantu seperti kursi roda bagi kualitas hidup penyandang disabilitas.
5. Peliputan Inklusif: Melibatkan suara dari penyandang disabilitas dan keluarga mereka secara langsung dalam pemberitaan.
Ejhi menegaskan bahwa jurnalis bisa menjadi jembatan nyata antara mereka yang membutuhkan dan pihak yang dapat memberikan pertolongan. ** (Ernus).
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.









