Wigbertus Ceme, selaku ketua tim juri, menekankan bahwa kegiatan ini menjadi langkah awal yang penting.
“Ini adalah ruang akademis yang harus terus dipraktikkan. Dunia usaha dan industri (DUDI) adalah ruang ilmiah yang menuntut standar yang jelas. Oleh karena itu, output dari kegiatan ini, termasuk sertifikasi, sangatlah penting bagi mahasiswa,” jelas Wigbertus.
Juri lainnya, Patrisius Hariyono, menyoroti pentingnya uji kompetensi dalam perlombaan karya ilmiah.
“Hal yang bersifat akademis dan ilmiah tidak bisa diabaikan. Mahasiswa harus mampu mengomunikasikan kreativitas mereka, salah satunya melalui tulisan yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Ini adalah langkah maju bagi Politeknik St. Wilhelmus Boawae,” ungkap Patrisius.
Sementara itu, Kosmas Lawa Lagho melihat kegiatan ini sebagai upaya nyata dalam meningkatkan literasi dan numerasi mahasiswa.
“Literasi itu dimulai dari sekolah dan dari hal-hal kecil seperti ini. Mahasiswa harus mulai bertanggung jawab atas apa yang mereka lakukan, terutama dalam riset. Hasil riset semacam ini diharapkan dapat menjadi kebutuhan publik,” ujar Kosmas.
Lebih lanjut, Kosmas berharap agar tidak hanya Politeknik St. Wilhelmus Boawae, tetapi juga sekolah-sekolah lain dapat terdorong untuk mencintai literasi.
“Ketika masyarakat memiliki tingkat literasi yang baik, maka kreativitas dan inovasi akan muncul. Dari kreativitas itulah akan lahir produk-produk yang bermanfaat bagi masyarakat,” tambahnya.
Asisten Direktur Bidang Akademik (Asdir), Marselina Nggene, menjelaskan bahwa kegiatan Pekan Kreativitas dan Entrepreneurship ini telah dirancang dengan matang dan menjadi bagian dari agenda semester genap.
“Kami ingin melihat mahasiswa tidak hanya berpartisipasi, tetapi juga mampu mengaplikasikan serta mengimplementasikan semua bentuk pembelajaran yang telah mereka jalani dalam karya tulis yang bisa dipertanggungjawabkan,” tutur Marselina.
Ia menambahkan bahwa di Politeknik St. Wilhelmus Boawae, proses akademik tidak hanya sampai pada tahap teori dan pertanggungjawaban hasil penelitian, tetapi juga mencakup riset mini yang dilaksanakan pada semester V dalam bentuk produk karya mandiri.
“Dalam program vokasi, 60% pembelajaran berbasis praktik. Oleh karena itu, mahasiswa harus mampu mempertanggungjawabkan dan mengimplementasikan kompetensi yang mereka miliki,” jelasnya.
Terakhir, Marselina menyampaikan apresiasi kepada para juri yang telah menjalankan tugas dengan profesional.
“Kami melihat bahwa penilaian dilakukan secara objektif, tanpa keberpihakan kepada siapapun. Ini menjadi bagian penting dalam menjaga kredibilitas acara ini,” pungkasnya.
Pekan Kreativitas dan Entrepreneurship ke-VI di Politeknik St. Wilhelmus Flores Boawae bukan sekadar ajang perlombaan, tetapi juga menjadi wadah bagi mahasiswa untuk mengasah kreativitas, inovasi, dan semangat kewirausahaan.
Dengan adanya kegiatan ini, diharapkan mahasiswa dapat lebih siap menghadapi dunia kerja serta mampu menciptakan peluang usaha yang inovatif di masa depan. **
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.









