Scroll Ke bawah untuk melanjutkan

Sengketa Tanah 16 Hektare Keranga Bergulir di Pengadilan, Jubir Ahli Waris Menduga Semua Dokumen Tergugat Fiktif

Kontributor : Redaksi Editor: Tim Redaksi
  • Bagikan
e7897ae0 c2d7 11f1 8ac8 c1e47ef59bb9
Sengketa Tanah 16 Hektare Keranga Bergulir di Pengadilan, Ferry Adu, Jubir Ahli Waris Menduga Semua Dokumen Tergugat Fiktif. (foto : Dok. Isth).

LABUAN BAJO, NTTNEWS.NET – Siapa yang berwenang menjual tanah sekitar 16 hektare di Keranga, Labuan Bajo? Pertanyaan itu menjadi inti sengketa antara para ahli waris almarhum Haji Makking dan pihak yang dikaitkan dengan ahli waris Niko Naput serta Santoso Kadiman. Perkara tersebut kini bergulir di Pengadilan Agama Labuan Bajo dengan Nomor: 73/Pdt.G/2026/PA.Lb.

Para ahli waris mendalilkan lahan itu merupakan harta peninggalan Haji Makking yang belum dibagi secara sah. Mereka mempertanyakan bagaimana tanah tersebut kemudian diperjualbelikan dan diklaim pihak lain.

Pada Kamis, 8 Oktober 2026, sejumlah ahli waris dan pihak berkepentingan hadir di Pengadilan Agama Labuan Bajo.

Ferry Adu, aktivis Labuan Bajo yang menjadi juru bicara sejumlah ahli waris, mengatakan kehadiran mereka merupakan bentuk kepatuhan terhadap proses hukum.

“Mereka datang ke pengadilan untuk mencari kebenaran, untuk memastikan kebenaran. Jadi apa yang mereka lakukan sekarang ini merupakan contoh yang baik bahwa mereka taat terhadap hukum itu sendiri,” ujar Ferry.

Baca Juga :  Kejutan Dari Golo Damu! Siprianus Suhardin Menang, Petahana Terpukul Di Angka 126 Suara

Menurut Ferry, tanah tersebut berkaitan dengan warisan Haji Makking dan hak banyak keturunannya, bukan hanya satu atau dua orang.

“Sejarah tanah ini adalah tanah milik almarhum Haji Makking. Kalau bicara Haji Makking, berarti beliau adalah leluhur dari para ahli waris. Artinya, bukan hanya satu atau dua orang yang mempunyai hubungan sebagai ahli waris, tetapi ada banyak cucu dan keturunan beliau,” katanya.

Salah satu titik sengketa adalah dasar peralihan tanah. Berdasarkan keterangan pihak ahli waris, lahan itu disebut pernah dijual Nasar Bin Supu dan Siti Naasiah Daeng Mawera kepada Niko Naput.

Pihak ahli waris mempertanyakan kewenangan kedua nama tersebut untuk menjual tanah apabila benar lahan itu masih menjadi harta warisan yang belum dibagi kepada seluruh ahli waris.

Ferry juga mempersoalkan dokumen riwayat perolehan yang, menurutnya, mencantumkan tanda tangan Siti Naasiah Daeng Mawera.

Ia menyatakan pihaknya belum mengetahui secara jelas identitas dan riwayat orang tersebut.

Baca Juga :  Diduga Dikuasai Ir. Hugeng, Ahli Waris Sebayur Kecil Melawan Lewat Jalur Perdata dan Pidana, Ini Penegasan Aktivis Labuan Bajo! 

“Keabsahan surat-suratnya mulai dari surat riwayat perolehan. Salah satunya disebut ditandatangani oleh orang yang bukan merupakan ahli waris dari almarhum Haji Makking, yaitu Siti Naasiah Daeng Mawera yang sampai hari ini kami sendiri mempertanyakan keberadaan dan riwayatnya,” ungkap Ferry.

Catatan yang disampaikan pihak ahli waris menyebut nama Siti Naasiah Daeng Mawera tidak ditemukan dalam silsilah keluarga yang mereka ketahui maupun data kependudukan Kelurahan Labuan Bajo.

Mereka menduga nama tersebut digunakan dalam dokumen transaksi.
Pihak ahli waris juga mempertanyakan bukti transaksi yang disebut berupa kuitansi.

Menurut Ferry, Niko Naput disebut memperoleh tanah dari Nasar Bin Supu, sementara status lahan diklaim masih sebagai warisan yang belum dibagi.

“Kasusnya seperti ini. Niko Naput membeli tanah itu dari Nasar Bin Supu. Persoalannya, tanah itu adalah tanah warisan milik almarhum Haji Makking yang belum dibagi waris,” jelasnya.

  • Bagikan