“Kami merasa diabaikan. Panitia hanya menyiapkan stand, tapi tidak menyediakan penerangan listrik yang lengkap. Malam hari kami berjualan dalam gelap,” keluh Ariyati.
Ia menambahkan bahwa meski telah membayar biaya sewa setiap hari, kondisi gelap gulita membuat mereka kesulitan menarik pembeli dan berdampak langsung pada pendapatan harian.
“Kami sewa satu stand Rp50 ribu per hari dan uangnya kami setor ke pemerintah. Tapi sejak pembukaan sampai hari kedua ini, belum ada listrik. Jadi kami jualan gelap, pembeli juga enggan datang,” tuturnya dengan nada kecewa.
Situasi ini, menurut para pelaku usaha, bertolak belakang dengan semangat “kebangkitan ekonomi baru” yang sebelumnya digaungkan oleh pemerintah daerah menjelang pelaksanaan ETMC di Ende.
Mereka menilai, momentum besar seperti ini seharusnya dimanfaatkan untuk menghidupkan aktivitas ekonomi rakyat kecil, bukan justru membiarkan mereka berjuang tanpa dukungan fasilitas yang memadai.
Hingga berita ini diterbitkan, panitia penyelenggara ETMC di Stadion Marilonga Ende belum memberikan tanggapan resmi. Upaya konfirmasi yang dilakukan NTTNEWS.NET kepada panitia di lokasi kegiatan juga belum membuahkan hasil, karena pihak panitia terus menghindar dari wawancara media. **
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.









