Scroll Ke bawah untuk melanjutkan

Masihkah Kita Memilih Maling dan Setan di Pilkada Mabar 2024?

  • Bagikan
IMG 20240320 231343
Plasidus Asis Deornay, S.H, Advokat dan Ketua Komodo Lawyers Club, Labuan Bajo, Manggarai Barat, NTT. (foto : isth).

Hal ini membawa kita pada pertanyaan mendasar, apakah kita masih memilih berdasarkan uang atau benar-benar mempertimbangkan visi, misi, dan integritas calon pemimpin?

Mengungkap peran uang dalam politik juga tidak terlepas dari sorotan terhadap incumbent. Di tengah masa kepemimpinannya, jumlah uang yang dikumpulkan dan aset-aset yang dimilikinya menjadi bahan perdebatan.

Dugaan-dugaan korupsi dan aliran uang dari berbagai proyek menjadi pertanyaan yang harus dijawab dengan transparan.

Namun, untuk melawan “Setan” dalam politik, tidaklah mudah. Proses hukum dan penegakan keadilan menjadi salah satu langkah krusial.

Baca Juga :  SP3 Kasus Nggoer Disorot, Dr. Kanisius Uji Dasar Hukum Penghentian Perkara Sakarudin dan Hasanudin

Mengungkap kejahatan, membongkar dosa-dosa, dan menghadirkannya di hadapan lembaga hukum seperti KPK dan Kejaksaan Agung menjadi upaya nyata untuk membersihkan panggung politik dari korupsi dan praktek-praktek yang merugikan masyarakat.

Tantangan ini tidak hanya pada level pemilihan, tetapi juga pada penegakan hukum dan keadilan di tingkat lokal. Kejaksaan dan kepolisian diharapkan dapat melakukan deteksi terhadap kekayaan yang tidak wajar, sehingga tidak ada lagi ruang bagi “Setan” untuk berkuasa secara tidak etis.

Baca Juga :  LC Karawang Meninggal di THM Labuan Bajo, Penyebabnya Masih Misterius 

Dalam akhir tulisan ini, pernyataan “Dormiunt aliquando leges, nunquam moriuntur” mengingatkan kita bahwa hukum mungkin terkadang tidur, namun, semangat untuk keadilan tidak akan pernah mati.

Dengan kerjasama semua pihak, termasuk masyarakat sebagai pemilih cerdas, kita dapat merajut sebuah politik yang bersih, transparan, dan melayani kepentingan rakyat dengan sejati. **

  • Bagikan