ENDE, NTTNEWS.NET – Menjelang peringatan Hari Lahir Pancasila pada 1 Juni, Ketua Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Ende, Andri Anto, menyampaikan kritik terhadap rencana Pemerintah Kabupaten Ende yang akan menggabungkan Festival Maria Guadalupe ke dalam rangkaian perayaan nasional tersebut.
Andri menilai, tidak terdapat relevansi yang konkret antara Hari Lahir Pancasila dengan Festival Maria Guadalupe. Menurutnya, langkah ini justru memunculkan polemik dan perdebatan di tengah masyarakat Ende.
“1 Juni merupakan momen penting dalam sejarah bangsa sebagai hari kelahiran ideologi Pancasila. Namun, keputusan Bupati Tote Badeoda dan Wabup Dominikus Mere untuk mencantumkan Festival Maria Guadalupe dalam rangkaian perayaan tahun ini memicu kontroversi,” ujar Andri.
Ia menjelaskan, Festival Maria Guadalupe merupakan tradisi keagamaan Katolik yang memperingati penampakan Bunda Maria kepada St. Juan Diego pada 9 Desember 1531 di Bukit Tepeyac, Meksiko. Dengan demikian, menurutnya, tidak ada keterkaitan historis atau ideologis antara festival tersebut dengan Hari Lahir Pancasila.
“Jika dari segi sejarah dan substansi saja tidak ada hubungan, maka atas dasar apa festival ini diintegrasikan dalam peringatan 1 Juni?” tegas Andri.
Lebih lanjut, Andri juga menyoroti ketimpangan perlakuan terhadap umat beragama lainnya.
Ia mempertanyakan mengapa hanya satu simbol keagamaan yang diangkat secara khusus dalam perayaan yang seharusnya menjadi milik seluruh bangsa, lintas agama dan suku.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.









