BORONG, NTTNEWS.NET – Kondisi sangat memprihatinkan rumah tempat tinggal dari pasangan suami istri (Pasutri) Pelipus Rose (42) dan Elisabet Rena Ningsi Nagong (44) di Pongbali, RT/RW 006/003, Desa Golo Meni, Kecamatan Kota Komba Utara, Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Rumah gubuk sederhana yang mereka tempati sejak lama terbuat dari bambu dan kayu yang sebagian besar sudah lapuk. Bangunan tersebut sebenarnya sudah tidak layak untuk dihuni, namun keluarga kecil ini tidak memiliki pilihan lain.
Pantauan langsung media ini pada Jumat (12/9/2025), memperlihatkan kondisi rumah yang sudah sangat mengkhawatirkan. Hampir seluruh bagian atap sudah berlubang.
Menurut keterangan Pelipilus Rose, setiap kali musim hujan tiba, air merembes masuk melalui celah-celah atap yang bocor, sehingga seluruh isi rumah tergenang air. Selain itu, hampir 90 persen kayu sudah lapuk, bambu penyangga dinding mulai rapuh, dan bagian lantai tanah becek bila diguyur hujan.
“Kalau hujan turun, kami semua pasti basah. Anak-anak terpaksa tidur sambil menutupi kepala dengan kain atau plastik. Kadang kami pindahkan tikar ke bagian yang agak kering, tapi tetap saja air merembes ke mana-mana,” ungkap Lipus dengan nada lirih.
Pasangan ini menikah pada tahun 2000 dan telah dikaruniai tiga orang anak. Anak pertama, Imaculata Nur Aini Nagong (14), saat ini duduk di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA) St. Arnoldus Mukun. Anak kedua, Yosep Kopertino Rue (7), bersekolah di Sekolah Dasar Katolik (SDK) Mukun Dua. Sedangkan anak bungsu mereka, Yohanes Devika Nagong, baru berusia 1 tahun 11 bulan.
Pelipilus Rose, atau yang akrab disapa Lipus, sehari-harinya bekerja sebagai petani dan buruh kasar. Saat ditemui media ini, ia mengucapkan terima kasih atas kunjungan wartawan.
“Terima kasih pak, ini pertama kali rumah saya dikunjungi wartawan dan melihat secara langsung kondisi kami. Jujur, untuk memperbaiki rumah saja saya tidak punya cukup uang, apalagi membangun rumah baru, rasanya mustahil. Saya hanya berharap pemerintah bisa membantu kami,” tuturnya penuh harap.
Lipus juga mengaku bahwa pada tahun 2022, Pemerintah Desa sempat mendatangi rumahnya, memotret kondisi bangunan, serta meminta data keluarga seperti Kartu Keluarga (KK) dan KTP. Namun, hingga tahun 2025 ini, belum ada realisasi bantuan.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.









