Scroll Ke bawah untuk melanjutkan

Pasar Murah Ninonk Ubah Peta Perdagangan, Harga Bawang Merah di Labuan Bajo Terjun Bebas

Kontributor : Redaksi Editor: Tim Redaksi
  • Bagikan
df647190 76eb 11f1 a782 3d5bf3751f10
Setelah beberapa pekan lalu masyarakat harus membeli bawang merah dengan harga mencapai Rp40.000 per kilogram, kini harga komoditas tersebut di sejumlah pasar tradisional dan lapak penjualan di Labuan Bajo berangsur turun menjadi Rp25.000, bahkan di beberapa titik telah menyentuh Rp23.000 per kilogram. (foto : Dok. Isth).

LABUAN BAJO | NTTNEWS.NET – Inisiatif pengusaha muda asal Labuan Bajo yang akrab disapa Ninonk menggelar pasar murah bawang merah mulai membuahkan hasil nyata.

Setelah beberapa pekan lalu masyarakat harus membeli bawang merah dengan harga mencapai Rp40.000 per kilogram, kini harga komoditas tersebut di sejumlah pasar tradisional dan lapak penjualan di Labuan Bajo berangsur turun menjadi Rp25.000, bahkan di beberapa titik telah menyentuh Rp23.000 per kilogram.

Penurunan harga ini menjadi kabar baik bagi masyarakat karena bawang merah merupakan salah satu kebutuhan pokok rumah tangga yang setiap hari digunakan.

Harga yang lebih terjangkau dinilai mampu meringankan beban pengeluaran keluarga, terutama di tengah kondisi ekonomi yang masih menuntut efisiensi belanja kebutuhan sehari-hari.

Perubahan harga tersebut juga menunjukkan adanya dampak positif dari mekanisme pasar yang lebih sehat.

Baca Juga :  Polres Mabar dan Sat Polairud Ukir Prestasi, 12 Personel Terima Penghargaan dari Kementerian Kehutanan RI

Kehadiran pasar murah yang digagas Ninonk telah mendorong terciptanya persaingan harga di tingkat pedagang, sehingga konsumen kini memiliki lebih banyak pilihan untuk memperoleh bawang merah dengan harga yang wajar.

Sebelumnya, Ninonk mengambil langkah berbeda dengan membeli hasil panen bawang merah langsung dari petani dengan harga yang layak.

Setelah itu, ia memangkas rantai distribusi yang selama ini dianggap menjadi salah satu penyebab tingginya harga di tingkat konsumen.

Bawang merah tersebut kemudian dijual kembali kepada masyarakat melalui pasar murah dengan harga Rp25.000 per kilogram.

Kebijakan itu mendapat perhatian luas karena dinilai mampu mempertemukan kepentingan petani dan masyarakat dalam satu sistem perdagangan yang saling menguntungkan.

Petani memperoleh kepastian harga jual yang baik, sementara masyarakat bisa membeli kebutuhan pokok dengan harga yang jauh lebih murah.

Baca Juga :  Dukung Peresmian Kodam Baru di NTT, FPM Usulkan Nama "Kodam Sobe Sonbai" sebagai Simbol Patriotisme Flobamora

Kini, hasil dari langkah tersebut mulai terlihat. Harga bawang merah yang sebelumnya bertahan di kisaran Rp40.000 perlahan mengikuti harga pasar murah yang ditawarkan, sehingga terjadi penyesuaian harga di berbagai lapak penjualan.

Ninonk menegaskan bahwa tujuan utama kegiatan tersebut bukan untuk mematikan usaha para pedagang, melainkan menciptakan keseimbangan harga agar seluruh pihak memperoleh manfaat.

“Kami tidak pernah berniat bersaing secara tidak sehat dengan pedagang. Tujuan kami sederhana, bagaimana masyarakat bisa membeli bawang merah dengan harga yang terjangkau, sementara petani tetap mendapatkan harga jual yang layak. Kalau distribusinya lebih efisien dan pembelian dilakukan langsung dari petani, tentu harga di tingkat konsumen bisa ditekan,” ujar Ninonk.

  • Bagikan