Scroll Ke bawah untuk melanjutkan

14 KK Korban Gempa Flores di Manggarai Masih Bertahan di Tenda, Beras dan Susu Bayi Kini Mendesak

Kontributor : Redaksi Editor: Tim Redaksi
  • Bagikan
9e105a30 c004 11f1 b447 cba3bc951ed8
Bukan hanya trauma, persoalan kebutuhan ekonomi dan pangan juga semakin berat. Kondisi tersebut dialami 14 kepala keluarga (KK) masyarakat Pane, Desa Compang Dari, Kecamatan Rahong Utara, Kabupaten Manggarai, yang hingga saat ini masih bertahan dan tidur di tenda-tenda darurat. (foto : Dok. Isth).

RUTENG, NTTNEWS.NET – Trauma akibat gempa bumi yang mengguncang Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), pada Sabtu, 15 Agustus 2026 lalu, masih dirasakan sejumlah warga hingga kini.

Bukan hanya trauma, persoalan kebutuhan ekonomi dan pangan juga semakin berat. Kondisi tersebut dialami 14 kepala keluarga (KK) masyarakat Pane, Desa Compang Dari, Kecamatan Rahong Utara, Kabupaten Manggarai, yang hingga saat ini masih bertahan dan tidur di tenda-tenda darurat.

Gempa bumi berkekuatan 7,7 magnitudo yang berpusat di wilayah Mbai, Kabupaten Nagekeo, tersebut menyebabkan sejumlah rumah warga mengalami kerusakan. Kondisi diperparah dengan gempa-gempa susulan yang masih dirasakan warga sehingga membuat mereka belum berani kembali menempati rumah masing-masing.

Bagi warga Pane, tenda darurat bukan lagi sekadar tempat sementara. Selama berminggu-minggu hingga bulan ini, tenda tersebut telah menjadi tempat mereka tidur, beristirahat, berkumpul bersama keluarga, sekaligus berlindung dari rasa takut terhadap kemungkinan terjadinya gempa susulan.

Saverius Semai, salah satu perwakilan 14 kepala keluarga korban gempa di Kampung Pane, mengatakan mereka masih bertahan di tenda karena rumah yang mereka tempati mengalami kerusakan cukup parah.

Baca Juga :  Jelang Pilkades 29 September, Ketua DPRD Mabar Ingatkan 181 Cakades: Jangan Karena Pilkades Kita Bermusuhan

Menurutnya, kondisi tersebut membuat warga mengalami tekanan ganda. Di satu sisi mereka masih dihantui trauma akibat gempa, sementara di sisi lain kebutuhan hidup sehari-hari terus meningkat.

“Kami sampai sekarang masih tidur di tenda darurat sejak awal gempa. Rumah kami rusak parah sehingga kami belum berani untuk kembali tinggal di dalam rumah,” ujar Saverius, kepada media ini pada Minggu malam (4/10/2026).

Ia mengatakan, setiap kali terjadi gempa susulan, rasa takut kembali muncul. Warga yang sedang berada di dalam tenda pun tetap waspada karena khawatir terjadi gempa dengan kekuatan lebih besar.

“Trauma masih ada. Kalau ada gempa susulan, kami langsung merasa takut. Karena pengalaman waktu gempa pertama itu sangat besar dan rumah kami juga sudah mengalami kerusakan,” katanya.

Saverius menjelaskan, dampak gempa tidak hanya dirasakan oleh 14 KK yang saat ini menempati tiga tenda pengungsian.

Untuk wilayah Kampung Pane secara keseluruhan, terdapat sekitar 30 KK yang rumahnya mengalami kerusakan, baik kategori rusak berat, sedang maupun ringan.

Baca Juga :  Kampanye di Hadapan 500 Massa, Jurae Gebrak Macang Tanggar: Dana Desa Disorot, Tanah 30,4 Hektare Jadi Perhatian

“Kalau untuk seluruh Kampung Pane, yang terdampak kurang lebih 30 KK. Ada rumah yang rusak berat, sedang dan juga rusak ringan,” jelasnya.

Sementara itu, untuk wilayah Desa Compang Dari, jumlah warga yang terdampak diperkirakan mencapai sekitar 130 KK.

Dari jumlah tersebut, 14 KK dengan kondisi rumah yang rusak parah saat ini masih bertahan di tiga tenda pengungsian yang didirikan sejak awal bencana.

“Kami ada tiga tenda dan dihuni oleh 14 kepala keluarga. Sampai sekarang kami masih tinggal di tenda karena kondisi rumah belum memungkinkan untuk ditempati,” ungkapnya.

Kondisi tersebut membuat kehidupan warga menjadi serba terbatas. Aktivitas sehari-hari harus dilakukan dalam kondisi darurat, sementara kebutuhan pangan keluarga tetap harus dipenuhi.

Di tengah kondisi yang masih sulit tersebut, Saverius mengungkapkan bantuan yang diterima warga sejak awal bencana masih sangat terbatas.

Khusus bantuan dari pemerintah, warga di tiga tenda tersebut mengaku baru dua kali menerima bantuan untuk kebutuhan bersama sejak gempa terjadi.

  • Bagikan