“Sejak awal bencana gempa bumi Flores ini, kami hanya mendapat dua kali bantuan dari pemerintah untuk semua,” katanya.
Selain bantuan pemerintah, warga juga sempat mendapatkan bantuan dari pihak lain.
Bantuan tersebut antara lain berasal dari pihak paroki untuk warga yang rumahnya mengalami kerusakan, PT PAF Indonesia, serta bantuan dari keluarga atau saudara sekampung yang berada di tanah rantau.
“Selain dari pemerintah, kami satu kali mendapat bantuan dari paroki khusus untuk rumah yang rusak. Kemudian satu kali dari PT PAF Indonesia dan satu kali juga dari ase ka’e atau saudara-saudara Kampung Pane yang berada di tanah rantau,” jelas Saverius.
Menurutnya, bantuan tersebut sangat berarti bagi warga. Namun, kebutuhan warga yang masih tinggal di tenda hingga saat ini belum berhenti.
Kebutuhan pangan menjadi salah satu persoalan paling mendesak karena warga harus memenuhi kebutuhan keluarga setiap hari, sementara sebagian aktivitas ekonomi mereka ikut terganggu akibat bencana.
Saat ini, 14 KK yang masih bertahan di tiga tenda pengungsian sangat membutuhkan bantuan kebutuhan pokok.
Beras, telur dan mi menjadi kebutuhan utama yang diharapkan dapat membantu memenuhi kebutuhan pangan keluarga selama masih berada di lokasi pengungsian.
“Khusus kami 14 KK yang ada di tiga tenda pengungsian ini, saat ini sangat membutuhkan kebutuhan pokok seperti beras, telur dan mi,” ujarnya.
Tidak hanya kebutuhan pangan untuk orang dewasa, warga juga berharap adanya bantuan susu untuk anak-anak dan bayi yang ikut tinggal di tenda pengungsian.
“Kami juga sangat berharap kalau ada yang bisa membantu susu untuk anak-anak dan bayi. Karena mereka juga membutuhkan perhatian dan asupan yang cukup selama berada di tenda,” tambahnya.
Saverius berharap kondisi para korban gempa di Kampung Pane dan Desa Compang Dari tidak dilupakan. Menurutnya, perhatian dan bantuan masih sangat dibutuhkan, terutama bagi keluarga yang rumahnya rusak parah dan sampai sekarang belum bisa kembali hidup normal.
Ia juga berharap pemerintah, lembaga sosial, organisasi kemanusiaan, dunia usaha maupun masyarakat yang memiliki kepedulian dapat melihat kondisi para korban secara langsung.
“Kami berharap ada orang-orang baik yang bisa membantu kami, terutama untuk kebutuhan yang sangat kami butuhkan saat ini. Kami masih berada di tenda dan kebutuhan sehari-hari terus berjalan,” tuturnya.
Bagi warga, bantuan yang datang bukan hanya soal nilai atau jumlahnya. Bantuan tersebut menjadi tanda bahwa mereka tidak sendirian menghadapi dampak bencana.
“Kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang sudah membantu kami sampai saat ini. Semoga ke depan masih ada yang peduli dan membantu kami. Terima kasih, Tuhan memberkati,” pungkasnya.
Hingga kini, 14 KK tersebut masih menunggu kondisi rumah dan lingkungan yang benar-benar aman agar dapat kembali menjalani kehidupan normal. Di tengah keterbatasan, mereka terus bertahan di tenda darurat sembari berharap bantuan dan perhatian terhadap korban gempa di wilayah pedalaman Manggarai tidak berhenti. **
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.









