Scroll Ke bawah untuk melanjutkan

Demi Sekolah, Siswa di Manggarai Timur Tantang Derasnya Arus Sungai

Kontributor : Ernus Editor: Redaksi
  • Bagikan
IMG 20250814 112712
Setiap pagi, belasan siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP) Satap Benteng Sipi asal Dusun Baja, Desa Benteng Pau, Kecamatan Elar Selatan, Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), harus mempertaruhkan keselamatan demi menuntut ilmu. (foto : isth).

BORONG, NTTNEWS.NET – Setiap pagi, belasan siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP) Satap Benteng Sipi asal Dusun Baja, Desa Benteng Pau, Kecamatan Elar Selatan, Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), harus mempertaruhkan keselamatan demi menuntut ilmu.

Sekolah mereka terletak di Kampung Nio, Desa Golo Wuas, sekitar empat kilometer dari rumah. Perjalanan menuju sekolah bukan sekadar melelahkan, tetapi juga berbahaya. Mereka harus menyeberangi Sungai Wae Pekas, yang menjadi satu-satunya jalur penghubung, dengan ketinggian air rata-rata 30 sentimeter.

Bila musim hujan tiba, situasi menjadi jauh lebih mengkhawatirkan. Arus sungai menguat, ketinggian air bisa mencapai tiga meter, dan tak jarang memutus total akses menuju sekolah.

Baca Juga :  Meriahkan Pesta Emas 50 Tahun, Paroki St. Antonius Padua Rii Gelar Turnamen Voli, Takraw dan Bulutangkis

“Kalau sudah banjir besar, kami tidak berani lewat. Lebih baik libur saja di rumah,” kata Denis (15), siswa kelas IX asal Dusun Baja, Sabtu (13/8/2025).

Denis menuturkan, ia dan teman-temannya selalu berangkat pagi-pagi buta dengan berjalan kaki. Setiba di tepi sungai, mereka mengganti seragam sekolah dengan pakaian biasa agar tidak basah.

Baca Juga :  Proyek Air Rp3 Miliar di Desa Ladur Hanya Bertahan Beberapa Bulan, DPRD Akui Banyak Kendala

“Kami dari rumah tidak pakai sepatu, pakai baju biasa dulu. Kalau sudah seberang baru ganti seragam sekolah,” ujarnya.

Namun, rasa was-was tak pernah hilang, apalagi saat hujan deras.

  • Bagikan