“Kadang airnya deras sekali. Kalau nekat, takut hanyut. Tapi kalau tidak ke sekolah, kami ketinggalan pelajaran,” tambah Denis.
Ketiadaan jembatan menjadi masalah utama yang dihadapi warga. Antonius Dion, warga Dusun Baja, mengakui kondisi ini sudah mereka alami puluhan tahun.
“Setiap musim hujan, anak-anak sering tidak sekolah karena terlalu berbahaya menyeberang sungai,” ungkapnya.
Tak hanya pendidikan yang terganggu, perekonomian warga pun terdampak. Sebagian besar penduduk bekerja sebagai petani, dan saat banjir mereka tidak bisa menuju kebun di seberang sungai.
Sebagai solusi sementara, warga setiap tahun bergotong royong membangun jembatan darurat dari bambu. Namun, usia jembatan sederhana ini tak pernah lama, apalagi jika dihantam banjir besar.
“Setiap tahun kami bangun lagi. Ini sudah nasib kami puluhan tahun,” kata Antonius.
Warga berharap pemerintah daerah, provinsi, hingga pusat segera membangun jembatan permanen. Harapan mereka sederhana: anak-anak bisa bersekolah tanpa rasa takut, dan roda perekonomian desa tetap berjalan tanpa hambatan setiap musim hujan. **
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.









