Scroll Ke bawah untuk melanjutkan

Dinas PKO Manggarai Barat Susun Peta Jalan Pendidikan Pertama di NTT

Kontributor : Redaksi Editor: Tim Redaksi
  • Bagikan
IMG 20250718 105935
Dinas PKO Manggarai Barat Susun Peta Jalan Pendidikan Pertama di NTT. (foto : isth).

• Konektivitas antara pendidikan dan potensi ekonomi lokal.

Dalam forum tersebut, Prof. Dr. Frans Salesman, S.E., M.Kes., menegaskan pentingnya membangun pendidikan berbasis keunggulan lokal, khususnya pada jenjang Sekolah Menengah Kejuruan (SMK).

“Kita tidak bisa lagi membangun pendidikan secara parsial. Setiap SMK perlu punya produk unggulan. Konsep One School One Product harus menjadi keniscayaan, agar pendidikan betul-betul terhubung dengan realitas ekonomi daerah,” ujarnya.

Pendidikan sebagai Gerakan Kultural

Sementara itu, Rektor UNIKA Santu Paulus Ruteng sekaligus Koordinator Tim Penyusun, Dr. Agustinus Manfred Habur, Lic., Theol., mengingatkan bahwa pendidikan tak bisa hanya dilihat sebagai program pemerintah, melainkan harus menjadi gerakan budaya yang melibatkan seluruh masyarakat.

Baca Juga :  Tri Dedy Mengamuk di Aksi: Kuota Padar Selatan Tidak Masuk Akal dan Mencekik Rakyat!

“Kita harus mengangkat kembali semangat partisipasi masyarakat. Revitalisasi tradisi gotong royong seperti Wu’at Wai bisa menjadi skema pembiayaan kolektif untuk pendidikan,” katanya.

Ia juga menawarkan pendekatan inovatif seperti “sekolah bergerak” dan “guru keliling” untuk menjangkau daerah-daerah terpencil yang masih sulit dijangkau secara infrastruktur.

Menuju 2045: Pendidikan Berbasis Budaya, Kompetitif Secara Global

Dengan visi besar “Transformasi Pendidikan untuk Generasi Manggarai Barat: Berakar pada Budaya, Unggul dalam Kompetisi Global”, Dinas PKO Manggarai Barat menunjukkan komitmen serius dalam membangun ekosistem pendidikan yang inklusif, partisipatif, dan berkelanjutan.

Baca Juga :  Ini Bukan Konservasi! AWSTAR Serang Kebijakan Kuota di Taman Nasional Komodo

Langkah ini sekaligus menjadi jawaban atas kebutuhan daerah untuk menyiapkan generasi muda yang mampu menjadi tuan rumah di negeri sendiri, berdaya saing tinggi, dan siap menyongsong Indonesia Emas 2045.

“Kita ingin anak-anak Manggarai Barat tidak hanya pintar secara akademik, tetapi juga cakap secara sosial dan ekonomi. Mereka harus mampu menjadi pemain utama di kampung sendiri,” pungkas Yohanes Hani. **

  • Bagikan