4. Mewujudkan tata kelola pendidikan yang sinergis, partisipatif, dan transparan.
Lebih lanjut, Dr. Marianus menjelaskan bahwa strategi implementasi peta jalan ini dibagi ke dalam tiga tahap besar:
Tahap 1 (2025–2030): Fondasi transformasi pendidikan, dengan fokus pada pembentukan sistem, struktur, dan kerangka kerja.
Tahap 2 (2031–2038): Akselerasi dan penguatan implementasi, dengan menekankan program-program berdampak nyata di sekolah dan masyarakat.
Tahap 3 (2039–2045): Konsolidasi dan kepemimpinan global, di mana Manggarai Barat diharapkan mampu bersaing di tingkat nasional bahkan internasional.
Dalam paparannya, Dr. Marianus juga menyoroti pentingnya pendekatan apresiatif inquiry yang berangkat dari kekuatan lokal dan budaya masyarakat Manggarai Barat.
“Kita harus menggali kekuatan yang sudah ada, seperti tradisi gotong royong, filosofi ’paki bola’, dan pengetahuan adat. Semua itu adalah aset pendidikan yang bisa diintegrasikan ke dalam kurikulum formal,” jelasnya.
Selain itu, sektor pariwisata yang menjadi motor ekonomi utama di Labuan Bajo juga diintegrasikan ke dalam sistem pendidikan melalui pembelajaran berbasis proyek (project-based learning).
“Pariwisata bukan hanya sektor ekonomi, tetapi juga ruang belajar. Sekolah bisa bekerja sama dengan industri pariwisata untuk memberikan pengalaman belajar yang nyata bagi siswa,” tambahnya.
Ia juga menekankan peran penting guru sebagai agen perubahan.
“Guru bukan hanya pelaksana teknis kurikulum, tetapi harus menjadi pemimpin pembelajaran yang mampu mentransformasikan realitas sosial. Kami ingin 80 persen guru di Manggarai Barat memiliki publikasi hasil penelitian tindakan kelas sebagai bukti profesionalisme dan inovasi,” ujarnya.
Menutup kegiatan, Kepala Dinas PKO Yohanes Hani menegaskan komitmennya untuk menjadikan peta jalan ini sebagai panduan kerja nyata dalam dua dekade ke depan.
“Pendidikan Manggarai Barat harus menjadi contoh bahwa daerah wisata juga bisa menjadi daerah unggulan pendidikan. Kami tidak ingin hanya membangun infrastruktur, tetapi juga membangun manusia,” tutup Yohanes Hani disambut tepuk tangan peserta.
Dengan terlaksananya FGD ini, Disdikpora Manggarai Barat menunjukkan langkah serius dalam mewujudkan pendidikan yang inklusif, berakar budaya, dan kompetitif secara global—menuju Manggarai Barat Cerdas 2045. **
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.









