“Anggaran dari pemerintah untuk bangun kantor tidak ada. Jadi saya ambil keputusan untuk pakai uang pribadi. Ini bentuk komitmen dan tanggung jawab moral saya sebagai kepala desa,” tegasnya.
Ia juga membela desain bangunan yang dinilai terlalu mewah. Menurutnya, gedung tersebut bukan sekadar simbol, tetapi bagian dari cara untuk membangun kepercayaan diri warga dan meningkatkan kualitas pelayanan.
“Saya ingin warga Desa Batu Cermin merasa dihargai. Kalau mereka datang ke kantor desa, mereka harus merasa nyaman, terlayani, dan bangga,” tambahnya.
Langkah Yono ini menjadi cermin semangat pengabdian yang tak lazim namun menginspirasi. Di tengah keterbatasan anggaran, ia justru menunjukkan bahwa perubahan bisa dimulai dari kemauan dan keberanian untuk bertindak.
“Pemimpin harus bisa berkorban untuk masyarakat. Bagi saya, ini bukan soal uang, tapi soal niat dan pelayanan,” pungkasnya.
Fenomena ini menyuguhkan gambaran baru tentang kepemimpinan di tingkat desa: bahwa integritas dan inovasi bisa berjalan seiring, bahkan ketika jalan yang diambil berbeda dari kebiasaan umum. **
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.









