
Kemudian, ritus sabda memberikan kedalaman spiritual dengan penampilan lamentasi, pembacaan Injil Lukas, dan doa-doa yang khidmat. Patung Tuhan Yesus wafat di salib diletakkan dalam peti dengan penghormatan yang tinggi oleh petugas.
Prosesi Laut kemudian dilanjutkan dengan perarakan yang diawali oleh benderah Tuan Meninu dan diikuti oleh berbagai elemen masyarakat dengan urutan yang teratur. Suasana semakin kental dengan lagu “Stabat Mater” yang mengiringi langkah-langkah mereka.
Sampai di Pantai Depan Berok atau Sampan, suasana semakin sakral dengan penghormatan yang diberikan kepada Peti Tuhan Yesus di Salib. Di sini, para tua adat dan Mama Do dengan penuh kesungguhan menjaga momen tersebut.
Selanjutnya, Berok Tuan Meninu melanjutkan perjalanan menuju Pante Kuce, Kelurahan Pohon Siri, seakan mengukuhkan keagungan dan kesucian perjalanan tersebut.
Prosesi Laut “Anta Tuan” di Kapela Tuan Meninu bukan hanya sebuah acara keagamaan, tetapi juga sebuah perjalanan spiritual yang memperlihatkan kekayaan tradisi dan kebersamaan masyarakat setempat. **
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.









