Kehadiran pemerintah kecamatan dan desa dalam proses penyaluran bantuan menjadi penting untuk memastikan masyarakat yang paling membutuhkan dapat terdata dan memperoleh bantuan secara tepat.
Fransiskus Nalu menyampaikan apresiasi kepada KPP Pratama Ruteng yang telah datang langsung ke tengah masyarakat terdampak.
“Kami menyampaikan terima kasih karena KPP Pratama Ruteng sudah datang melihat langsung kondisi masyarakat kami. Bantuan ini sangat berarti bagi warga, terutama bagi keluarga yang rumahnya roboh dan masih tinggal di tempat pengungsian,” ungkapnya.
Menurutnya, kondisi warga pascagempa masih memprihatinkan. Selain kerusakan rumah, masyarakat juga masih mengalami ketakutan akibat guncangan yang terjadi.
“Warga masih trauma. Ada yang belum berani masuk rumah karena takut terjadi gempa susulan. Karena itu, bantuan seperti beras, mi instan, selimut dan terpal sangat dibutuhkan saat ini,” ujarnya.
Camat Kuwus Barat, Fransiskus Dugis, juga menyampaikan bahwa penanganan warga terdampak membutuhkan kerja sama semua pihak. Pemerintah tidak dapat bekerja sendiri karena kebutuhan masyarakat pascabencana sangat besar.
“Kami berharap kepedulian seperti ini terus berlanjut. Kondisi masyarakat masih membutuhkan perhatian. Ada warga yang rumahnya rusak bahkan roboh sehingga untuk sementara harus bertahan di luar rumah,” katanya.
Di Desa Golo Lewe, kisah tentang kehilangan masih terasa di tengah masyarakat. Ada keluarga yang harus meninggalkan rumah yang selama bertahun-tahun menjadi tempat berlindung. Ada pula warga yang menyelamatkan diri hanya dengan membawa barang seadanya.
Bencana datang dalam hitungan detik, tetapi dampaknya dirasakan dalam waktu yang panjang.
Kini, masyarakat tidak hanya membutuhkan makanan dan tempat berteduh. Mereka juga membutuhkan rasa aman, dukungan, serta kepastian bahwa proses pemulihan akan terus berjalan.
Bagi anak-anak, suara gempa dan guncangan yang terjadi menjadi pengalaman yang sulit dilupakan. Sebagian harus tidur di tenda atau tempat terbuka bersama orang tua karena kondisi rumah yang rusak maupun karena rasa takut untuk kembali masuk ke dalam rumah.
Di tengah kondisi tersebut, kehadiran berbagai pihak yang datang langsung ke lokasi menjadi kekuatan moral bagi masyarakat.
Bantuan dari KPP Pratama Ruteng diharapkan dapat menjadi bagian dari gerakan solidaritas untuk membantu masyarakat Flores melewati masa sulit pascagempa.
Masyarakat terdampak kini berharap bantuan tidak berhenti pada tahap tanggap darurat. Mereka juga membutuhkan dukungan dalam proses pemulihan, mulai dari perbaikan rumah, pemenuhan kebutuhan dasar hingga pemulihan aktivitas ekonomi yang ikut terdampak.
Gempa telah merobohkan sejumlah bangunan dan meninggalkan luka. Namun, kepedulian dan gotong royong di tengah masyarakat menjadi harapan bahwa warga Flores dapat perlahan bangkit kembali.
Di balik tenda-tenda pengungsian, di antara puing-puing rumah dan rasa takut yang belum sepenuhnya hilang, masyarakat masih menyimpan harapan sederhana: bisa kembali hidup normal, kembali ke rumah yang aman, dan melihat keluarganya tersenyum tanpa dihantui rasa takut.
“Kami hanya berharap jangan dilupakan. Kami masih membutuhkan bantuan dan dukungan sampai benar-benar bisa bangkit kembali,” menjadi harapan warga terdampak yang menggambarkan betapa panjangnya jalan pemulihan setelah bencana.
Kepedulian KPP Pratama Ruteng pun menjadi salah satu bukti bahwa di tengah kesedihan dan kehilangan, rasa kemanusiaan masih terus menyala. Bantuan mungkin tidak mampu menghapus seluruh luka akibat gempa, tetapi setidaknya menjadi penguat bagi mereka yang sedang berjuang untuk bangkit dari reruntuhan. **
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.









