Pada 21 Januari 2024, pukul 14.15 Wita, Maria Peni Hayon kembali datang ke Pos Kesehatan Konga dengan keluhan sesak napas, batuk pilek, nyeri ulu hati, dan napsu makan menurun selama 4 hari belakang.
Petugas kesehatan melakukan pemeriksaan dengan hasil tekanan darah 140/70 mmHg, nadi 90×/menit, suhu 36, dan SP02 87-99%.
Selanjutnya, pukul 14.20 Wita, pasien dilayani Nebulisasi Ventolin + Nacl 1:4 ml. Namun, pada pukul 14.30 Wita, Maria Peni Hayon muntah berwarna hitam darah bercampur lendir, menghentikan Nebulisasi. Pada pukul 14.35 Wita, pasien dipasang Infus RL 20 TPM.
Dinkes Flotim mencatat, pukul 14.40 Wita, pasien mendapat Injeksi Ranitidine 50 mg/IV dan Ondan 4 mg/IV serta layani cambusit 1 tablet, dan pemasangan oksigen 3 LPM.
Pukul 14.50 Wita, pasien antar ke IGD Boru untuk rujukan ke Rumah Sakit St. Gabriel Kewapante. Pada 25 Januari 2024, pukul 23.45 Wita, Maria Peni Hayon meninggal dunia.
Demikianlah, perjalanan penuh perjuangan seorang pengungsi Lewotobi, Maria Peni Hayon, yang akhirnya berakhir dengan kepiluan yang mendalam pada malam yang gelap.** (ELL)
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.









