“Dan ini mengandung makna filosofis bahwa Dr. Edy gagal paham adalah seseorang yang tidak mengerti dengan benar tentang sesuatu hal. Selain itu, tipe manusia yang sedikit ilmu namun merasa telah memiliki banyak ilmu,” jelas Ahang, seraya menggambarkan konsekuensi dari kegagalan memahami sebagai kesombongan yang berujung pada isolasi intelektual.
“Tidak mengherankan jika Dr. Edy menganggap dirinya paling benar, padahal ilmunya dangkal,” lanjut Ahang.
Dia menekankan bahwa sikap kesombongan semacam ini berpotensi membawa Dr. Edy pada jurang kehancuran karena menilai LSM dan wartawan sebagai pemeras.
Ahang juga menyoroti aspek emosional dalam pernyataan Dr. Edy.
“Saya melihat Dr. Edy lebih mengedepankan emosinya sedangkan logikanya tertutup oleh nafsu amaranya,” ungkap Ahang dengan tegas.
Menurutnya, dalam menyampaikan pendapat dan analisis, penting untuk tidak terjebak dalam emosi yang bisa mengaburkan penilaian logis. **
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.









