Salah satu keunikan Kampung Rosok adalah keberadaan empat mata air yang mengalir deras dalam satu kawasan. Debit air yang besar membentuk sungai kecil yang dapat dilayari perahu motor.
Mata air ini menjadi sumber kehidupan utama warga—untuk air minum, irigasi sawah, serta lalu lintas air. Sayangnya, potensi besar ini belum dioptimalkan karena belum adanya bendungan yang mampu menahan dan mengatur aliran air.
Albertus Jenahan (70), tokoh masyarakat setempat, mengatakan bahwa mata air ini telah ada sejak nenek moyang mereka menempati Kampung Rosok. Warga hanya bisa memanfaatkan air dengan cara tradisional, menggunakan batu, ijuk, tanah, dan pasir untuk membuat bendungan darurat yang mudah rusak.
Kegetiran warga inilah yang ingin disuarakan. Mereka berharap ada campur tangan pemerintah untuk membangun bendungan permanen. Dengan adanya bendungan, mereka bisa memperluas lahan pertanian dan mengembangkan budidaya tambak ikan atau kepiting bakau.
Aspirasi Warga, Harapan Baru
Menyaksikan langsung kondisi tersebut, Siprianus Anjelo berjanji akan meneruskan aspirasi warga kepada rekan-rekannya di DPRD dari Dapil 1. Ia juga berinisiatif membantu warga dengan menyumbangkan semen untuk membangun bendungan darurat sambil menunggu perhatian dari pemerintah.
“Kami akan koordinasikan ini dengan anggota DPRD Dapil 1 dan Dapil 2,” ujar Anjelo, disambut senyum penuh harapan dari warga.
Pagi harinya, bersama Ferry, adik saya yang seorang arsitek, kami mengukur lebar sungai dan menghitung kebutuhan material pembangunan bendungan sederhana. Data ini nantinya akan dibawa ke pemerintah sebagai rujukan usulan pembangunan.
Potensi Kampung Rosok
Dalam diskusi malam hari bersama warga, terungkap berbagai potensi Kampung Rosok. Selain sektor pertanian dan perikanan, kawasan ini memiliki potensi wisata yang luar biasa. Sensasi menyusuri sungai di atas perahu, pemandian alami di mata air, serta pemandangan kampung yang asri bisa menjadi daya tarik utama.
“Jika potensi ini dikemas dengan baik, Kampung Rosok bisa menjadi destinasi wisata baru yang berdaya saing,” ungkap Anjelo.
Selain itu, keberadaan ikan bandeng, belut, dan kepiting bakau yang sering masuk ke sawah warga menunjukkan potensi besar untuk budidaya perikanan.
Beberapa wisatawan asing yang pernah berkunjung bahkan mengeluhkan ketiadaan fasilitas sederhana seperti tempat bilas dan ruang ganti. Ini menunjukkan bahwa peluang pengembangan wisata di Kampung Rosok sangat terbuka lebar.
Warga dan pemerintah desa berharap pemerintah daerah melalui Dinas Pariwisata dapat menangkap peluang ini dan membantu mewujudkan Kampung Rosok sebagai desa wisata yang mandiri dan berdaya saing. **
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.









