Scroll Ke bawah untuk melanjutkan

Menteri Agama Serahkan Bantuan Rp3 Miliar untuk Korban Gempa Flores, Tekankan Persaudaraan dan Toleransi Antarumat Beragama

Kontributor : Redaksi Editor: Tim Redaksi
  • Bagikan
IMG 20260903 144105
Menteri Agama Serahkan Bantuan Rp3 Miliar untuk Korban Gempa Flores, 16 ruang belajar berupa tenda belajar darurat atau Temporary Learning Space (TLS) serta 100 paket school kit untuk mendukung keberlangsungan proses pendidikan anak-anak yang terdampak bencana. (foto : Dok. Isth).

Nasaruddin juga menggambarkan Indonesia sebagai sebuah lukisan yang indah karena tersusun dari berbagai warna, suku, agama, budaya, dan tradisi.

“Indonesia ini adalah lukisan yang paling indah. Keindahan itu lahir karena banyak warna dan ornamen yang berkonfigurasi satu sama lain. Karena itu, Indonesia tidak boleh dirusak dan tidak boleh dipecah-pecah. Kita wajib mempertahankannya,” tegasnya.

“Musibah Boleh Mengguncang Flores, Tetapi Jangan Mengguncang Persaudaraan”

Sementara itu, Fransiskus Kalianto, Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Nusa Tenggara Timur, menyampaikan apresiasi dan terima kasih atas kedatangan Menteri Agama secara langsung ke Flores.

Ia mengatakan, dalam situasi yang tidak mudah akibat bencana, masyarakat masih diberikan kesempatan untuk berkumpul, saling menguatkan, dan berbagi harapan.

“Yang tidak mudah ini, kita masih diberikan kesempatan untuk berkumpul, saling menguatkan dan berbagi harapan,” ujar Fransiskus.

Atas nama Kanwil Kementerian Agama Provinsi NTT, Fransiskus menyampaikan selamat datang kepada Menteri Agama beserta rombongan di bumi Flores, khususnya Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat.

“Bagi kami, kehadiran Bapak Menteri dan rombongan hari ini bukan sekadar kunjungan kerja biasa. Ini adalah wujud kehadiran negara yang datang langsung untuk melihat, mendengarkan, merasakan penderitaan, kegelisahan, sekaligus harapan masyarakat di bumi Flores,” katanya.

Fransiskus menegaskan bahwa NTT merupakan rumah bagi keberagaman agama, suku, budaya, dan tradisi.

Ia mengatakan, keberagaman tersebut terlihat jelas di Manggarai dan berbagai wilayah lainnya di Flores.

“NTT merupakan rumah bagi keberagaman agama, suku, budaya dan tradisi. Karena itu, NTT dikenal sebagai Nusa Indah Toleransi,” ungkapnya.

Menurut Fransiskus, semangat persaudaraan tersebut semakin terlihat ketika bencana terjadi.

“Ketika saudara mengalami kesusahan, saudara yang lain datang membantu tanpa bertanya apa agamamu, apa sukumu, dari mana asalmu. Kita berbeda dalam iman dan budaya, tetapi kita satu dalam kemanusiaan,” tegasnya.

Fransiskus juga melaporkan perkembangan dampak gempa kepada Menteri Agama. Berdasarkan hasil koordinasi dan pendataan bersama jajaran Kementerian Agama di sejumlah wilayah terdampak, bencana telah memberikan dampak terhadap masyarakat, rumah ibadah, rumah dinas, kantor pelayanan, serta satuan pendidikan keagamaan.

Baca Juga :  51 Personel BKO Mabes Polri Dipulangkan Usai 14 Hari Bantu Penanganan Gempa Flores

Ia menyebutkan terdapat korban meninggal dari keluarga besar madrasah sebanyak lima orang, yang terdiri dari satu kepala madrasah pada Madrasah Aliyah Swasta Al-Hikmah dan empat orang siswi madrasah.

Selain itu, rumah ibadah yang terdampak atau mengalami kerusakan tercatat sebanyak 59 unit, yang terdiri atas rumah ibadah Katolik, Kristen, Islam, Hindu dan Buddha.

“Data rumah ibadah yang terdampak sebanyak 59 unit, dengan rincian Katolik 42, Kristen 33, Islam 51, Hindu satu dan Buddha dua,” jelas Fransiskus.

Selain rumah ibadah, terdapat pula tujuh kantor Kementerian Agama/KUA yang terdampak, serta 12 madrasah dan sejumlah fasilitas lainnya.

Ia juga menyampaikan terdapat 343 rumah yang berkaitan dengan keluarga besar Kementerian Agama yang terdampak bencana.

Sementara satuan pendidikan keagamaan, termasuk madrasah dan lembaga pendidikan lainnya, tercatat sebanyak 94 unit terdampak.

Fransiskus menegaskan bahwa data tersebut masih bersifat dinamis dan terus diverifikasi karena gempa susulan masih terjadi.

“Data kebencanaan terus bergerak dan masih kami verifikasi karena masih terjadi gempa susulan. Meskipun frekuensinya berkurang, tetap ada dinamika perkembangan. Bisa saja rumah yang awalnya hanya retak, kemudian karena gempa susulan menjadi ambruk dan akhirnya mengalami rusak berat,” jelasnya.

Fransiskus mengatakan, sejak awal terjadinya gempa, jajaran Kementerian Agama NTT telah melakukan koordinasi, pendataan, serta memastikan pelayanan keagamaan dan pendidikan tetap berjalan.

“Kami langsung melakukan koordinasi dan pendataan serta memastikan pelayanan keagamaan, pendidikan dan administrasi pelayanan Kementerian Agama tetap bergerak,” katanya.

Selain itu, keluarga besar Kementerian Agama NTT juga menggalang solidaritas kemanusiaan untuk membantu masyarakat terdampak.

“Melalui penggalangan dana, sebagian bantuan telah kami salurkan dalam bentuk bahan makanan dan kebutuhan dasar kepada keluarga dan masyarakat terdampak,” ujarnya.

Kementerian Agama juga memberikan santunan kepada keluarga siswa madrasah yang meninggal dunia serta melakukan kunjungan dan penyaluran bantuan ke sejumlah kabupaten terdampak.

Baca Juga :  Pasca Gempa Flores, Kapolsek Komodo dan Camat Komodo Perkuat Koordinasi Penanganan Warga Terdampak

“Bantuan telah kami salurkan ke Ende, Nagekeo, Ngada, Manggarai Timur, Manggarai dan Manggarai Barat. Tinggal satu kabupaten lagi, yaitu Kabupaten Sikka. Besok pagi kami akan bergerak ke sana untuk memastikan pelayanan keagamaan sekaligus melihat langsung kondisi umat kita di Sikka,” jelas Fransiskus.

Fransiskus menyampaikan apresiasi mendalam atas bantuan dan kehadiran Menteri Agama di tengah masyarakat Flores yang sedang menghadapi masa sulit.

“Bantuan apa pun tentu sangat berarti, tetapi kehadiran jauh lebih besar dari sekadar bantuan. Kehadiran Bapak Menteri hari ini memberikan pesan bahwa negara hadir, negara peduli dan masyarakat Flores tidak merasa sendirian,” katanya.

Ia kemudian mengutip pesan Menteri Agama yang menurutnya sangat kuat bagi masyarakat terdampak bencana.

“Bapak Menteri sering mengatakan, ‘Kamu tidak sendirian dan kita bersaudara.’ Pesan itu menjadi kekuatan bagi masyarakat yang sedang menghadapi musibah,” ungkapnya.

Fransiskus menutup sambutannya dengan pesan persaudaraan yang menggambarkan semangat masyarakat NTT untuk bangkit setelah bencana.

“Gempa boleh mengguncang Flores, tetapi jangan sampai mengguncang persaudaraan kita. Rumah boleh rusak, tetapi jangan sampai menghancurkan harapan kita. Kita boleh berbeda agama dan budaya, tetapi dalam kemanusiaan kita adalah satu keluarga,” tegasnya.

Ia berharap seluruh masyarakat yang terdampak diberikan kekuatan untuk melewati masa pemulihan.

“Semoga Tuhan Yang Maha Pengasih menguatkan para korban, menghibur keluarga yang berduka, memberikan kekuatan kepada masyarakat yang terdampak dan menumbuhkan kembali harapan untuk bangkit,” pungkasnya.

Penyerahan bantuan Kementerian Agama tersebut diharapkan dapat membantu mempercepat proses pemulihan masyarakat Flores, khususnya dalam memenuhi kebutuhan dasar, memulihkan aktivitas pendidikan, serta menjaga keberlangsungan pelayanan keagamaan di wilayah yang terdampak gempa.

Lebih dari sekadar bantuan material, kehadiran Menteri Agama di Flores juga menjadi pesan kuat bahwa dalam situasi bencana, masyarakat tidak boleh berjalan sendiri. Solidaritas, toleransi, persaudaraan, dan kemanusiaan menjadi kekuatan penting bagi Flores untuk bangkit dan menata kembali kehidupan pascabencana. **

  • Bagikan