Scroll Ke bawah untuk melanjutkan

14 Hari di Tengah Bencana Flores, Kombes Bayu Suseno Ungkap Ketangguhan Warga NTT dan Keindahan Flores

Kontributor : Redaksi Editor: Tim Redaksi
  • Bagikan
IMG 20260831 141736
Kombespol Dr. Bayu Suseno, S.H., S.I.K., M.M., M.H., Anjak Biropenmas Divisi Humas Mabes Polri. (foto : Dok. Isth).

LABUAN BAJO, NTTNEWS.NET – Pengalaman selama berada di Pulau Flores dalam rangka menjalankan tugas penanganan bencana gempa bumi tektonik menjadi pengalaman yang tidak terlupakan bagi Kombespol Dr. Bayu Suseno, S.H., S.I.K., M.M., M.H., Anjak Biropenmas Divisi Humas Mabes Polri.

Bayu merupakan salah satu personel yang ditugaskan Mabes Polri untuk mendukung jajaran Polda Nusa Tenggara Timur dalam penanganan bencana gempa bumi yang mengguncang sejumlah wilayah di Pulau Flores.

Selama berada di Flores, Bayu tidak hanya menjalankan tugas kedinasan, tetapi juga menyaksikan secara langsung kondisi masyarakat terdampak bencana, kehidupan para pengungsi, semangat gotong royong, hingga potensi alam dan pariwisata Flores yang menurutnya sangat luar biasa.

Kepada awak media pada Senin (31/8) di Lapangan Mapolres Manggarai barat, Bayu menceritakan awal dirinya mendapat perintah untuk berangkat ke NTT. Saat itu, pada 15 Agustus 2026 sore, dirinya sedang melakukan olahraga.

Di tengah aktivitas tersebut, Bayu mendapat telepon dari pimpinan.

“Terima kasih, saya cerita ya Mbak. Jadi sejarahnya kenapa saya bisa sampai di Flores. Waktu itu tanggal 15 Agustus 2026 sore hari saya sedang olahraga, sedang lari-lari. Ternyata saya mendapat telepon dari Pak Kaditumas,” ujar Bayu.

Saat menerima telepon tersebut, Bayu mengaku belum mengetahui bahwa dirinya akan ditugaskan ke NTT.

“Saya angkat, ‘Siap Jenderal, ada perintah.’ Beliau bertanya hanya satu, ‘Bayu kamu di mana?’ Saya jawab, ‘Siap Jenderal, saya sedang di Depok.’ Beliau bilang, ‘Ah, kamu dekat sama Jakarta. Dua jam kita ketemu di bandara.’ Jadi waktu itu saya tidak tahu ada apa,” tuturnya.

Perintah selanjutnya baru diterima Bayu ketika dirinya menuju bandara.

“Saya diperintahkan untuk ke bandara dan membawa baju terlengkap untuk tujuh hari. Kami berangkatlah ke bandara. Begitu sampai di bandara saya baru tahu kalau ada surat perintah untuk saya berangkat ke NTT, ke Labuan Bajo, karena ada penanganan bencana gempa bumi,” jelasnya.

Baca Juga :  Di Tengah Duka Gempa Flores, Ketua Dewan Syuro DPC PKB Manggarai Timur dan Relawan SIAGA Kebangsaan DPP Salurkan Bantuan

Setelah mengetahui tugas yang harus dijalankan, Bayu kemudian mendapat informasi mengenai personel yang akan dibawa dalam mendukung kegiatan penanganan bencana tersebut.

Menurutnya, dalam perjalanan tersebut, tim juga melibatkan sejumlah rekan media dari Jakarta untuk membantu peliputan dan penyebarluasan informasi mengenai kondisi bencana di Flores.

“Dari situ akhirnya saya mendapatkan data siapa yang saya bawa. Termasuk juga kita membawa rekan-rekan media dari Jakarta. Ada rekan media dari Metro TV, Kumparan, sama Detik,” katanya.

Bayu bersama tim kemudian berangkat menggunakan pesawat charter Batik Air dan bergabung dengan personel Brimob.

“Di situlah baru kita naik pesawat, bergabung dengan rekan-rekan dari Brimob. Pesawat charter Batik Air waktu itu dini hari. Kami terbang dan sampai di Labuan Bajo,” ungkapnya.

Sesampainya di Labuan Bajo, tim tidak membutuhkan waktu lama untuk beristirahat. Pada hari berikutnya, mereka langsung bergerak menuju wilayah yang menjadi salah satu lokasi terdampak gempa dan menampung banyak pengungsi.

“Kami istirahat sebentar. Hari Seninnya kami sudah bergeser ke Riung. Nah, mulai dari Riung itulah kita mulai melakukan liputan di lokasi tempat penampungan pengungsi,” ujarnya.

Bayu mengaku kondisi para pengungsi pada awal kedatangan masih sangat terbatas. Salah satu lokasi yang menjadi perhatian adalah tempat penampungan yang dihuni sekitar 1.400 orang.

“Waktu itu pengungsi terbanyak ada sekitar 1.400 orang. Dengan segala keterbatasannya, ada yang tidur di SMP, ada yang di teras, kemudian ada yang membawa terpal dan lain-lain,” katanya.

Keterbatasan juga dirasakan oleh petugas kepolisian yang berada di lapangan. Namun, kondisi tersebut tidak menyurutkan semangat para personel untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat.

“Termasuk kita dari Polri sendiri juga masih sangat terbatas waktu itu. Tetapi semua tetap berusaha memberikan pelayanan yang terbaik kepada masyarakat,” tuturnya.

Baca Juga :  Kapolda NTT Tinjau Rusun Polres Manggarai Barat yang Retak, Puluhan Hunian Polisi Terdampak Gempa

Pada hari berikutnya, tim juga mengikuti kegiatan kunjungan langsung atau on the spot bersama pimpinan dan sejumlah pihak terkait untuk melihat kondisi masyarakat terdampak.

“Bapak juga melakukan kunjungan langsung on the spot dengan mengajak dari komisi dan rekan-rekan lainnya. Sehingga setelah itu baru mulai dilengkapi perlengkapannya,” jelas Bayu.

Selama menjalankan tugas, ada sejumlah pengalaman yang paling membekas bagi Bayu. Salah satunya adalah ketangguhan mental masyarakat NTT dalam menghadapi bencana.

Menurutnya, masyarakat tetap berusaha menjalankan kehidupan sehari-hari meskipun berada dalam kondisi yang sulit.

“Pengalaman yang saya rasakan di sini adalah yang pertama saya melihat bahwasanya rekan-rekan masyarakat dari NTT ini luar biasa. Yang pertama terkait dengan ketahanan mentalnya,” ungkapnya.

Ia menilai masyarakat Flores memiliki kemampuan luar biasa untuk bangkit dan tetap menjalankan aktivitas meski baru saja menghadapi bencana.

“Dengan adanya bencana, mereka tetap bertahan hidup, tetap melakukan kegiatan-kegiatan. Sehingga kita yang sedang melakukan upaya-upaya untuk trauma healing dan lain-lain ini tidak terlalu berat,” katanya.

Hal tersebut juga terlihat dari anak-anak yang berada di lokasi pengungsian.

“Termasuk adik-adik, anak-anak ini juga dengan gembira. Kita melakukan trauma healing, mereka senang sekali,” tambahnya.

Selain ketangguhan mental, Bayu juga mengaku terkesan dengan keramahan masyarakat Flores.

“Kemudian yang kedua saya lihat juga masyarakat di sini sangat ramah. Kami yang dari Jakarta, jauh-jauh dari sana, senang sekali melihat anggota juga disambut dengan bercanda dan lain-lain,” ujarnya.

Hal lain yang menurut Bayu sangat menonjol adalah semangat gotong royong.

Ia menceritakan bagaimana masyarakat membantu proses distribusi bantuan di tengah keterbatasan air bersih.

“Kemudian yang ketiga adalah gotong royong. Kita lihat waktu itu di Riung, karena air sangat terbatas. Sementara dekat dengan laut,” katanya.

  • Bagikan