Scroll Ke bawah untuk melanjutkan

Pilkades Riung Memanas! 900-an Massa Padati Kampanye Retno Nari, “Jangan Jadikan Pilkades Ajang Pecah Keluarga!”

Kontributor : Alfred Editor: Tim Redaksi
  • Bagikan
IMG 20260923 WA0130
Ratusan massa pendukung memadati Kampung Wotok, Desa Riung, Kecamatan Cibal, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur, Rabu (23/9/2026). (foto : Dok. Isth).

RUTENG, NTTNEWS.NET – Ratusan massa pendukung memadati Kampung Wotok, Desa Riung, Kecamatan Cibal, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur, Rabu (23/9/2026).

Mereka datang dari sejumlah wilayah, di antaranya Dusun Kois, Wotok, dan Gumbang, untuk menghadiri kampanye akbar Calon Kepala Desa Riung Nomor Urut 01, Mariano Oktavianus Nari, S.Pt, yang akrab disapa Retno Nari.

Kampanye tersebut menjadi salah satu momentum penting dalam tahapan Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) Riung untuk periode 2027–2034.

Di tengah antusiasme massa yang diperkirakan mencapai sekitar 900 orang, Retno Nari bersama tim kampanye menyampaikan visi, misi, serta gagasan pembangunan yang ditawarkan kepada masyarakat Desa Riung.

Namun, di balik kemeriahan kampanye tersebut, pesan yang paling ditekankan bukan semata-mata soal kemenangan dalam kontestasi politik desa.

Retno Nari dan timnya justru berulang kali menyerukan agar perbedaan pilihan politik tidak menjadi alasan untuk merusak hubungan kekeluargaan yang telah terbangun di tengah masyarakat.

Juru Kampanye (Jurkam) Nomor Urut 01, Ino Mamat, dalam orasinya menegaskan bahwa perjuangan memenangkan kontestasi Pilkades Riung tidak dibangun dengan cara menjatuhkan calon lain.

Menurutnya, demokrasi di tingkat desa harus menjadi ruang untuk mempertemukan gagasan dan pilihan masyarakat, bukan arena untuk mempertajam permusuhan.

Baca Juga :  Kasus Dana Hibah Pilkada Rp28 Miliar Naik Penyidikan, Inspektorat Bongkar Potensi Kerugian Negara

“Kemenangan yang kami harapkan bukanlah kemenangan yang dibangun dari menjatuhkan pihak lain, melainkan kemenangan yang lahir dari kepercayaan masyarakat,” kata Ino Mamat.

Ia mengatakan, kepemimpinan desa ke depan harus mampu mendengar suara masyarakat, memahami kebutuhan warga, serta menjalankan pemerintahan secara terbuka.

Menurutnya, kepentingan masyarakat dan kemajuan Desa Riung harus ditempatkan di atas kepentingan pribadi maupun kelompok.

“Kita ingin membangun pemerintahan desa yang mampu mendengar masyarakat, memahami kebutuhan warga, bekerja secara terbuka dan menempatkan kepentingan Desa Riung di atas kepentingan pribadi maupun kelompok,” ujarnya.

Ino Mamat juga mengingatkan seluruh pendukung agar tidak menjadikan perbedaan pilihan politik sebagai sumber konflik di tengah keluarga maupun masyarakat.

“Mari berkompetisi dengan gagasan, memilih dengan hati nurani, dan setelah Pilkades selesai, kembali bergandengan tangan membangun Desa Riung,” tegasnya.

Sementara itu, di hadapan massa pendukung, Retno Nari menyampaikan bahwa dirinya tidak ingin menjadikan janji-janji politik sebagai dasar utama dalam perjuangannya menuju kursi Kepala Desa Riung.

Ia bahkan meminta masyarakat agar tidak mudah percaya kepada calon yang hanya mengandalkan janji.

“Jangan pernah percaya kepada siapa pun yang memberikan janji. Saya sendiri tidak pernah memberikan janji,” ungkap Retno Nari.

Baca Juga :  Sengketa 16 Hektare Karangan Memanas, Aktivis Ferry Adu Dukung Ahli Waris Haji Makking Tempuh Jalur Pengadilan

Pernyataan tersebut disampaikan Retno sebagai penegasan bahwa kontestasi Pilkades, menurutnya, harus diarahkan pada gagasan dan kerja nyata untuk masyarakat.

Dalam kesempatan itu, Retno juga menyampaikan ungkapan dalam bahasa Manggarai: “Eme lobo watun cepisa perjuangan dite ho, ho taung kid kole tite.”

Pesan tersebut disampaikannya sebagai bagian dari seruan perjuangan kepada masyarakat yang hadir dalam kampanye akbar tersebut.

Retno Nari kemudian menekankan pentingnya menjaga persaudaraan di tengah perbedaan pilihan politik.

Menurutnya, Pilkades merupakan bagian dari proses demokrasi yang akan menghasilkan pilihan masyarakat, tetapi hasil tersebut tidak boleh menjadi alasan untuk memutus hubungan kekeluargaan.

“Jangan jadikan Pilkades ini sebagai ajang pecah belah keluarga. Apa pun pilihan orang lain harus kita hargai, karena itu bagian dari demokrasi,” tegas Retno di hadapan massa pendukungnya.

Pesan tersebut menjadi salah satu poin penting dalam kampanye akbar Nomor Urut 01.

Sebab, masyarakat Desa Riung nantinya akan kembali hidup berdampingan setelah seluruh tahapan Pilkades selesai.

Perbedaan pilihan politik, kata Retno, merupakan hal yang wajar dalam demokrasi.

  • Bagikan