LABUAN BAJO, NTTNEWS.NET – Suasana haru dan penuh syukur menyelimuti Perayaan Pancawindu (40 Tahun) Imamat Pater Andre Hamma, OFM, yang berlangsung di Beo (Kampung) Lara, Desa Poco Golo Kempo, Kecamatan Sano Nggoang, Kabupaten Manggarai Barat, Selasa (15/7/2025).
Perayaan yang berlangsung sejak pukul 11.00 hingga 16.00 WITA itu dihadiri oleh sekitar 400 umat, termasuk Wakil Bupati Manggarai Barat, dr. Yulianus Weng, M.Kes, dan Ketua DPRD Manggarai Barat, Benediktus Nurdin, ST.
Acara yang terdiri atas Misa Kudus dan resepsi tersebut berlangsung sederhana, namun sarat makna rohani dan emosional bagi umat serta keluarga besar Lara. Misa Kudus dipimpin langsung oleh Uskup Keuskupan Labuan Bajo, Mgr. Maksimus Regus, dan turut didampingi oleh Pater Andre Hamma, Vikjen Keuskupan Labuan Bajo Romo Rikard Manggo, Vikep Labuan Bajo Romo Yuven, serta enam imam lainnya sebagai konselebran.
Dalam homilinya, Uskup Maksimus mengungkapkan rasa syukur atas kesetiaan Pater Andre selama 40 tahun dalam pelayanan imamat.
“Pater Andre adalah contoh nyata dari ketekunan dan kesetiaan sebagai imam Fransiskan. Kita patut bersyukur atas pengabdian beliau yang tidak hanya membentuk umat secara rohani, tetapi juga mempererat persaudaraan lintas wilayah,” ujar Uskup Maksimus.
Siapakah Pater Andre?
Pater Andre Hamma, OFM, lahir di Beo Lara 71 tahun lalu dan ditahbiskan sebagai imam dari Ordo Fransiskan 40 tahun silam. Dikenal dengan kaul kemiskinan yang ketat, ordo ini sering dijuluki Ordo Saudara Dina, bahkan secara jenaka disebut “Ordo Fakir Miskin”.
Selama hidup imamatnya, Pater Andre lebih banyak menjalankan misi pastoral di Timor Leste dan saat ini menjabat sebagai Pimpinan Ordo Fransiskan di negara tersebut. Sebelumnya, ia juga pernah melayani sebagai Pastor Paroki Aeramo di Mbay dan bertugas di komunitas OFM di Gorontalo, Labuan Bajo.
Sejarah dan Identitas Orang Lara
Perayaan Pancawindu kali ini menjadi istimewa karena diselenggarakan di kampung asal Pater Andre, yakni Beo Lara. Orang Lara sendiri merupakan satu komunitas keturunan yang menurut cerita lisan berasal dari Minangkabau, meski ada juga yang menyebut berasal dari Sulawesi. Karena kondisi geografis kampung Lara yang berbukit dan sempit, banyak warga kemudian menyebar ke berbagai wilayah seperti Kaca, Hento (Boleng), Cumbi, Duwe, Dalong, Labuan Bajo (Komodo), Datak (Welak), dan Wae Wako (Lembor), bahkan hingga ke Ende, Kupang, dan Jayapura.
Kolaborasi Lintas Wilayah
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.









