LABUAN BAJO, NTTNEWS.NET – Gelombang penolakan terhadap aktivitas PT Nuncalale Tridaya Prima di Desa Golo Mori, Kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai Barat, terus menguat.
Dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama DPRD Manggarai Barat, Rabu (8/10/2025), warga Nggoer menyuarakan keluhan dan desakan agar izin perusahaan pertambangan tersebut dicabut.
Rapat yang dipimpin Wakil Ketua II DPRD Manggarai Barat, Sewargading S. J. Putra, berlangsung panas dan penuh ketegangan.
Sejumlah anggota DPRD seperti Hasanudin, Inocentius Peni, Silvester Syukur, dan Kanisius Jehabut, secara tajam menginterogasi perwakilan perusahaan terkait dugaan manipulasi tanda tangan, kejanggalan izin, serta kerusakan lingkungan yang kian mengkhawatirkan.
Dalam forum tersebut, Taufiq, perwakilan warga Nggoer, menuturkan kekecewaan mendalam atas klaim perusahaan mengenai dokumen izin yang disebut telah disetujui masyarakat.
Ia menyebut tanda tangan yang ada dalam surat tersebut bukan bentuk persetujuan, melainkan daftar hadir biasa dalam rapat sosialisasi.
“Pada waktu itu memang ada musyawarah soal datangnya PT Nuncalale Tridaya Prima ini. Tapi perlu diketahui, tanda tangan yang ada dalam surat itu bukan tanda tangan kesepakatan. Itu tanda tangan daftar hadir pada saat rapat,” tegas Taufiq di hadapan anggota dewan.
Menurutnya, jumlah warga yang hadir saat sosialisasi tak lebih dari 15 orang, namun dalam dokumen izin tercatat 26 tanda tangan.
“Jadi masyarakat Nggoer itu dijebak sebetulnya,” ujar Taufiq. Ia mendesak agar keaslian tanda tangan dalam dokumen tersebut diusut dan izin perusahaan segera dicabut.
Sorotan berikutnya datang dari Martina Ame, warga lainnya, yang menggambarkan dengan getir kerusakan lingkungan akibat aktivitas tambang.
“Kami menolak sekali perusahaan PT Nucalale ini, karena lingkungan kami sudah rusak semua,” ujarnya dengan nada emosional.
Martina menunjukkan area sekitar sumber air yang kini gundul akibat penebangan dan pengerukan.
“Banyak pohon tumbang, air jadi kering, selokan air di rumah saya sekarang menggantung,” jelasnya.
Ia juga menceritakan banjir besar yang baru-baru ini merendam kampung mereka.
“Kampung kami sudah terendam banjir kemarin. Pertama-tama di rumah ibadat kami, di gereja. Air naik sampai fondasi gereja,” kenangnya.
“Pastor sendiri yang saksikan waktu itu. Karena akibat galian dari PT Nuncalale,” sambungnya.
Martina menegaskan, aktivitas tambang itu mengancam keselamatan warga serta keberlanjutan pariwisata Golo Mori.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.









