Menurutnya, kehilangan sosok suami sekaligus ayah telah meninggalkan luka batin yang sangat dalam bagi keluarganya, terutama anak-anak yang hingga kini masih sering menanyakan keberadaan ayah mereka.
“Anak saya sering bilang, ‘Mama, kapan papa pulang?’ Bahkan mereka pernah berdoa supaya papanya bisa kembali walaupun hanya sebentar. Itu yang paling membuat hati saya hancur,” ungkapnya lirih.
Ia menegaskan bahwa proses hukum harus berjalan secara adil dan transparan tanpa ada perlindungan terhadap para terdakwa hanya karena status mereka sebagai anggota TNI.
“Saya hanya ingin keadilan. Mereka harus dihukum setimpal dengan apa yang sudah mereka lakukan kepada suami saya,” tegas Puspita.
Kasus pembunuhan MIP sendiri bermula dari dugaan penculikan yang kemudian berujung pada penganiayaan berat hingga menyebabkan korban meninggal dunia.
Berdasarkan hasil penyelidikan, ketiga terdakwa diduga memiliki peran aktif dalam rangkaian aksi brutal tersebut.
Jaksa militer mendakwa para terdakwa dengan pasal pembunuhan berencana, yang ancaman hukumannya sangat berat.
Persidangan pun diperkirakan masih akan berlanjut dengan agenda pemeriksaan saksi dan pengungkapan motif di balik pembunuhan tersebut.
Perkara ini memantik perhatian luas masyarakat dan memunculkan desakan agar institusi TNI menindak tegas setiap pelanggaran hukum yang dilakukan anggotanya demi menjaga kepercayaan publik terhadap institusi negara. **
Sumber: CNN Indonesia.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.









