Para pendukung terlihat begitu atraktif dan agresif dalam ‘memasarkan’ Paslon jagoan mereka. Ruang publik menjadi lebih semarak. Foto (baliho) yang disisipi beberapa ‘jargon politik’, melayang secara bebas dalam ruang publik. Sayangnya, produk yang ditawarkan itu, masih berupa kulit luar (atribut fisik). Publik belum ‘mengecap’ seperti apa isi kepala mereka dalam upaya mengubah wajah dan kontur politik daerah ini.
Tetapi, minusnya narasi politik bermutu itu, tidak hanya terjadi pada Paslon muda itu. Hampir pasti bahwa energi para kandidat saat ini tercurah hanya untuk mendapat ‘kendaraan politik’. Momen adu gagasan sepertinya ‘belum tiba’.
Sambil menanti momen ‘perang ide’ itu benar-benar terjadi, sebagian publik dihinggapi suara yang bersifat pesimistis. Pasalnya, mereka masih ‘sangsi’ dengan keseriusan duet ini untuk maju dalam medan laga politik itu. Mereka merasa perlu untuk mendapatkan ‘garansi’ bahwa keduanya berjuang all out dalam upaya perebutan kekuasaan ini.
Pertanyaan yang muncul ke permukaan adalah benarkah Mario dan Rikar ingin ‘mundur’ dari jabatan yang mereka sandang saat ini (DPRD untuk Mario dan Kabag administrasi pembangunan untuk Rikar)? Apa bukti bahwa keduanya sungguh-sungguh ingin ‘pensiun dini’ dari jabatan prestisius itu? Apakah ada semacam kewajiban bagi keduanya untuk ‘membuat surat pengunduran diri’? Jika iya, kapan surat itu dibuat?
Kita tahu bahwa Mario baru saja terpilih menjadi anggota DPRD Mabar. Hampir semua kemegahan dan kenikmatan duniawi bisa dirasakan dalam kawasan legislatif itu. Tetapi, Mario dengan tahu dan mau ‘tak peduli’ dengan aneka kemudahan semacam itu. Beliau lebih memilih untuk bermukim di kawasan kekuasaan yang lebih seksi dan prestisius.
Hal yang sama terjadi pada Rikar jika niat untuk ‘belok haluan’ itu bukan tipuan belaka. Kariernya dalam dunia birokrasi ‘melejit’. Dalam usia yang relatif muda, dirinya telah mengemban tugas sebagai Kepala Bagian (Kabag) Administrasi dalam lingkungan Pemda Mabar. Dari sisi karier dan pendapatan, jabatan itu sebetulnya sangat menjanjikan. Bukan tidak mungkin dalam waktu tidak lama lagi dirinya bisa menjadi Kepala Dinas dan bahkan Sekretaris Daerah (Sekda).
Namun, Rikar dengan mantap mau meninggalkan ‘peluang karier birokrasi’ semacam itu. Beliau (sekali lagi jika isu pencalonannya benar), hendak ‘melompat’ ke jabatan politik top untuk level Kabupaten. Tentu, keputusan semacam itu dilatari oleh pertimbangan dan kalkulasi politik yang bersifat personal. Kita mesti menghargai ‘hak’ orang untuk maju dalam kontestasi dan bermimpi meraih kursi kuasa yang lebih besar.
Soal kepastian duet ini maju dalam arena perang politik, hanya mereka yang tahu. Publik hanya sebatas menduga sambil menanti momen ‘pengesahan dan pendaftaran’ sebagai salah satu Paslon. Jika skenario ini berjalan mulus, maka Pilkada Mabar kali ini bakal lebih seru dan kompetitif.
Apapun skenario yang terjadi kelak, satu yang pasti bahwa nama ‘Mario’ telah menjadi sebuah ‘fenomena’ dalam jagat politik lokal. Mario berhasil ‘mencuri’ perhatian publik dan bahkan digadang-gadang sebagai ‘the next leader’. Apakah ‘fenomena Mario’ itu muncul karena ‘faktor nama besar sang ayah’ atau murni karena kecakapan pribadinya? Biarkan waktu yang menjawabnya.
*Penulis adalah warga Mabar. Tinggal di Watu Langkas.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.









