LABUAN BAJO, NTTNEWS.NET – Warga Dusun Golo Lewe, Desa Lumut, Kecamatan Ndoso, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, sudah delapan bulan menanti realisasi proyek jalan lapen yang dijanjikan. Harapan yang dulu membuncah perlahan berubah menjadi kekecewaan mendalam.
Di sepanjang jalan tanah yang retak dan berubah becek saat hujan turun, warga pernah membayangkan akses yang lebih layak dan nyaman.
Mereka menantikan hadirnya jalan berlapis aspal ringan (lapen) yang dapat menghubungkan dusun mereka ke pusat desa. Namun, impian itu hingga kini belum juga menjadi kenyataan.
“Material sudah datang sejak tahun lalu, tapi pekerjaannya tak kunjung dimulai. Kami mulai curiga, ada apa sebenarnya dengan dana desa kami?” ujar Paulus, seorang warga Golo Lewe.
Sejak September 2024, material seperti agregat dan drum aspal sudah ditumpuk di tujuh titik berbeda. Jumlahnya pun tidak sedikit—tujuh tumpukan agregat dan dua belas drum aspal—cukup untuk menunjukkan bahwa proyek ini benar-benar direncanakan, bukan sekadar wacana.
Namun hingga pertengahan Mei 2025, belum terlihat satu pun alat berat atau pekerja yang memulai pengerjaan.
Proyek ini disebut-sebut berasal dari alokasi Dana Desa Tahun Anggaran 2024. Semestinya, pengerjaan dimulai bersamaan dengan kedatangan material. Namun, fakta di lapangan menunjukkan kebalikannya—proyek justru mangkrak tanpa penjelasan.
“Kalau hanya disiapkan material lalu ditinggal begitu saja, buat apa? Kami bukan tempat parkir proyek mangkrak,” kata Yohana, seorang ibu rumah tangga yang tinggal di Golo Lewe.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.









