LABUAN BAJO, NTTNEWS.NET – Kementerian Agama Republik Indonesia menunjukkan kepedulian terhadap masyarakat yang terdampak bencana gempa bumi di Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), dengan menyalurkan bantuan tanggap darurat senilai Rp3.000.000.000 (tiga miliar rupiah).
Bantuan tersebut diserahkan langsung oleh Prof. Dr. Nasaruddin Umar, M.A., Menteri Agama Republik Indonesia, dalam kunjungannya ke Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Labuan Bajo), Kabupaten Manggarai Barat, NTT, Kamis (3/9/2026).
Selain bantuan dana, Kementerian Agama juga menyerahkan 16 ruang belajar berupa tenda belajar darurat atau Temporary Learning Space (TLS) serta 100 paket school kit untuk mendukung keberlangsungan proses pendidikan anak-anak yang terdampak bencana.
Penyaluran bantuan ini menjadi bagian dari upaya pemerintah untuk memastikan masyarakat terdampak gempa tidak hanya mendapatkan bantuan kebutuhan dasar, tetapi juga memperoleh dukungan untuk memulihkan aktivitas pendidikan dan kehidupan sosial keagamaan setelah bencana.
Dalam kegiatan tersebut, Menteri Agama Prof. Dr. Nasaruddin Umar hadir didampingi Pelaksana Tugas (Plt.) Dirjen Agama Katolik, Koordinator Staf Khusus Menteri Agama, serta Kepala Biro Umum Kementerian Agama.
Turut hadir Uskup Keuskupan Labuan Bajo, Uskup Keuskupan Ruteng yang diwakili Vikjen, para Romo, Pater, Suster, serta seluruh Kepala Kantor Kementerian Agama kabupaten/kota se-Provinsi NTT.
Dalam sambutannya, Menteri Agama Nasaruddin Umar mengungkapkan rasa syukur karena akhirnya dapat datang secara langsung ke Flores untuk melihat kondisi masyarakat yang terdampak bencana.
Ia mengatakan, sejak pertama kali mengetahui kabar gempa melalui pemberitaan televisi, dirinya langsung mengambil langkah untuk berkoordinasi dan memikirkan bantuan yang dapat segera diberikan kepada masyarakat.
“Bersyukur akhirnya saya bisa datang langsung. Begitu kejadian waktu itu, saya melihat di televisi dan langsung saya telepon teman-teman. Saya bertanya, apa yang harus kita lakukan?” ujar Nasaruddin.
Menurutnya, informasi awal mengenai jumlah korban yang muncul di media saat gempa terjadi belum menggambarkan kondisi sebenarnya. Dengan kekuatan gempa yang sangat besar, ia memperkirakan dampak yang terjadi di lapangan jauh lebih luas.
“Waktu itu baru muncul di TV, informasinya baru ada dua orang meninggal. Saya berpikir, tidak mungkin gempa dengan skala sebesar itu korbannya hanya segitu. Ternyata memang setelah itu data korban dan dampaknya terus berkembang,” katanya.
Nasaruddin menjelaskan, Kementerian Agama kemudian bergerak untuk memberikan bantuan tanggap darurat, termasuk penyediaan tenda, makanan, serta berbagai kebutuhan masyarakat terdampak.
Ia sebenarnya ingin datang langsung sejak awal bencana, namun terkendala persoalan transportasi. Karena itu, bantuan terlebih dahulu dikirimkan melalui jalur yang memungkinkan.
“Agama kemudian menurunkan bantuan dalam bentuk kemah, tenda-tenda dan makanan. Waktu itu saya ingin hadir langsung, tetapi ada kendala transportasi. Bantuan kita kirim melalui pesawat. Tetapi bagi saya, itu belum cukup. Saya ingin turun langsung dan akhirnya hari ini saya bisa datang ke tempat ini,” ungkapnya.
Menurut Nasaruddin, kunjungannya ke Flores bukan sekadar agenda kerja pemerintahan. Ia memiliki ikatan emosional dengan NTT, terlebih karena wilayah ini memiliki hubungan kuat dalam kehidupan keagamaan dan persaudaraan masyarakat.
“Bagi saya, NTT ini bukan daerah biasa. Di sini banyak pesan yang saya punya. Pesisir pantainya, masyarakatnya, dan banyak teman-teman saya di sini. Bahkan ada gereja yang roboh, ada juga teman dan saudara kami yang terdampak. Buat saya, ini adalah sesuatu yang sangat menyakitkan,” tuturnya.
Dalam kesempatan tersebut, Menteri Agama juga menyampaikan pesan moral dan keagamaan kepada masyarakat yang sedang menghadapi masa sulit akibat bencana.
Ia mengajak masyarakat untuk tidak memandang musibah semata-mata sebagai hukuman, tetapi sebagai ujian yang dapat menjadi momentum untuk memperkuat kesabaran, solidaritas, dan kedekatan kepada Tuhan.
“Sesungguhnya musibah itu adalah ujian. Di mana ada ujian, di situ ada janji. Tidak ada kenaikan kelas tanpa ujian,” kata Nasaruddin.
Ia menegaskan bahwa masyarakat yang sedang mengalami bencana tidak boleh kehilangan harapan. Sebaliknya, kondisi tersebut harus menjadi kesempatan untuk saling menguatkan.
“Musibah ini bukan azab. Musibah adalah ujian Tuhan kepada kita, menguji daya kesabaran kita dalam menghadapi keadaan,” ujarnya.
Nasaruddin bahkan menggambarkan musibah sebagai bentuk “surat cinta Tuhan” yang mengingatkan manusia agar kembali mendekatkan diri kepada-Nya.
“Musibah itu adalah surat cinta Tuhan. Sekian lama kita diundang dengan undangan putih, mungkin kita tidak menyadarinya. Kemudian Tuhan mengirim surat undangan merah dalam bentuk musibah, baru kita sadar,” katanya.
Ia mengajak masyarakat agar menjadikan musibah sebagai momentum untuk memperkuat hubungan spiritual sekaligus mempererat hubungan kemanusiaan.
“Anggaplah musibah ini sebagai cara Tuhan mengundang hambanya lebih dekat kepada diri-Nya. Musibah kadang lebih cepat mendekatkan kita kepada Tuhan daripada pujian dan kenikmatan,” tambahnya.
Menurutnya, kehidupan manusia tidak terlepas dari dua bentuk ujian, yakni ujian melalui kesulitan dan ujian melalui kenikmatan.
“Banyak orang diuji dengan kenikmatan, tetapi justru semakin jauh dari Tuhan. Ada juga yang diuji dengan musibah, tetapi justru semakin dekat dengan Tuhan,” jelasnya.
Ia mengingatkan agar masyarakat mampu menjalani kedua kondisi tersebut dengan sikap yang tepat.
“Kalau diuji dengan musibah, kita harus bersabar. Kalau diuji dengan kenikmatan, kita harus bersyukur. Jadi, syukur dan sabar harus menjadi bagian dari kehidupan kita,” tegas Nasaruddin.
Salah satu pesan utama yang disampaikan Menteri Agama dalam kunjungannya adalah pentingnya menjaga persaudaraan lintas agama, terutama di tengah situasi bencana.
Menurutnya, NTT merupakan salah satu contoh daerah yang memiliki kekayaan keberagaman agama, budaya, suku, dan tradisi. Keberagaman tersebut harus menjadi kekuatan, bukan alasan untuk saling menjauh.
“Jangan menekankan perbedaan antara satu agama dengan agama yang lain. Tekankanlah persamaannya,” kata Nasaruddin.
Ia menjelaskan bahwa berbagai agama memiliki banyak titik temu dalam sejarah dan nilai kemanusiaan.
“Katolik, Kristen, dan Islam itu satu nenek moyang. Jadi wajar kalau kita prihatin satu sama lain ketika ada yang menimpa saudara kita sendiri,” ujarnya.
Menurutnya, perbedaan istilah atau penyebutan dalam kitab suci tidak seharusnya menjadi alasan untuk menganggap bahwa setiap agama tidak memiliki titik temu.
“Jangan karena istilahnya berbeda, nomenklaturnya berbeda, namanya berbeda, otomatis kita menganggap itu berbeda. Justru lebih mudah bagi kita mencari titik temu dan persamaan antara satu agama dengan agama yang lain,” ungkapnya.
Ia menegaskan bahwa toleransi bukan berarti memaksakan semua orang menjadi sama.
“Toleransi ialah membiarkan yang berbeda itu berbeda dan membiarkan yang sama itu sama, tanpa harus mempersoalkannya,” katanya.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.









