Scroll Ke bawah untuk melanjutkan

Kunjungi Korban Gempa Bea Waek, DPR RI Bawa Bantuan dan Temui Bidan yang Bertahan di Tengah Puing

Kontributor : Redaksi Editor: Tim Redaksi
  • Bagikan
261b44e0 a146 11f1 aa00 e5ac6ccd95fb
Kepedulian terhadap warga yang terdampak gempa Flores mendorong Andreas Hugo Pareira, Wakil Ketua Komisi XIII DPR RI periode 2024–2029 dari Fraksi PDI Perjuangan, Daerah Pemilihan (Dapil) Nusa Tenggara Timur I (NTT I), turun langsung menemui masyarakat di Posko Kesehatan Desa Bea Waek , Rabu (26/8/2026). (foto : Dok. Isth).

Namun, di tengah kehancuran itu, semangat pengabdian Endang dan rekan-rekannya justru tidak ikut runtuh.

Mereka tetap memberikan pelayanan kesehatan dengan fasilitas seadanya.

“Kami hanya berpikir bagaimana masyarakat tetap mendapatkan pelayanan. Walaupun tempatnya sudah rusak, kami berusaha tetap melayani sebisa kami,” katanya.

Kisah Endang menjadi gambaran bahwa bencana tidak hanya menghadirkan kisah kehilangan, tetapi juga memperlihatkan keteguhan hati orang-orang yang memilih bertahan demi kemanusiaan.

Di satu sisi, ia adalah korban yang juga membutuhkan pertolongan. Di sisi lain, ia harus menjadi orang yang memberikan pertolongan kepada korban lainnya.

Ada rasa takut yang harus disembunyikan ketika berhadapan dengan pasien. Ada air mata yang mungkin harus ditahan agar masyarakat tetap merasa aman.

Sebab, bagi warga Desa Bea Waek, kehadiran tenaga kesehatan di tengah situasi seperti itu bukan sekadar pelayanan medis. Mereka adalah tempat warga berharap ketika sakit, terluka, atau membutuhkan pertolongan.

Sementara itu, Anton Dehot turut menunjukkan kepeduliannya dengan menyumbangkan satu ret pasir untuk membantu warga yang rumahnya roboh akibat gempa.

Baca Juga :  Di Tengah Duka Gempa Flores, Ketua DPRD Mabar Bersama NasDem Salurkan Sembako untuk Warga Terdampak

Bantuan material tersebut diharapkan dapat menjadi bagian awal dari upaya warga membangun kembali tempat tinggal mereka yang hancur.

Bagi warga yang rumahnya telah rata dengan tanah, pasir bukan sekadar material bangunan. Ia menjadi simbol harapan bahwa suatu hari nanti mereka dapat kembali memiliki rumah, kembali tidur dengan tenang, dan kembali menjalani kehidupan seperti sebelum bencana.

Namun, perjalanan menuju pemulihan tentu tidak mudah.

Gempa telah meninggalkan luka yang tidak dapat disembuhkan hanya dalam hitungan hari. Sebagian warga kehilangan rumah, harta benda, bahkan anggota keluarga.

Anak-anak harus tidur dalam suasana yang tidak lagi seperti rumah. Para orang tua dihantui kekhawatiran tentang masa depan. Sementara para tenaga kesehatan harus bekerja di tengah keterbatasan fasilitas.

Karena itu, kepedulian dan bantuan dari berbagai pihak masih sangat dibutuhkan.

Kehadiran Andreas Hugo Pareira dan Anton Dehot di Desa Bea Waek menjadi salah satu bentuk nyata bahwa perhatian terhadap korban gempa harus terus dijaga, bukan hanya pada saat bencana terjadi, tetapi hingga masyarakat benar-benar mampu bangkit kembali.

Baca Juga :  KPP Pratama Ruteng Salurkan Bantuan untuk Warga Korban Gempa di Golo Lewe, 60 KK Bertahan di Tengah Trauma

Bagi Endang dan para tenaga kesehatan lainnya, perjuangan belum selesai.

Pustu mungkin telah runtuh. Rumah mungkin rusak. Rasa trauma mungkin masih membekas.

Tetapi pelayanan kepada masyarakat tidak boleh ikut berhenti.

Di antara puing-puing Pustu Bea Waek, masih ada harapan yang terus dijaga.

Harapan itu hadir dari tangan-tangan para tenaga kesehatan yang tetap bekerja, dari warga yang saling membantu, dari relawan yang datang membawa bantuan, dan dari berbagai pihak yang tidak membiarkan korban bencana menghadapi kesedihan seorang diri.

Gempa telah merobohkan bangunan, tetapi belum mampu merobohkan semangat kemanusiaan.

Dan di tengah puing-puing itu, Endang bersama rekan-rekannya masih berdiri—membawa luka, menyimpan trauma, tetapi tetap memilih mengabdi.

Sebab bagi mereka, ketika masyarakat masih membutuhkan pertolongan, langkah untuk melayani harus tetap diteruskan. **

  • Bagikan