Ketika jerigen warga berjejer menanti giliran air bersih di Tengatiba, dentuman musik, senam zumba, dan sorak-sorai pesta rakyat menggema di Lapangan Berdikari. Sebuah ironi di tanah yang retak karena haus.
“Festival ini seperti penjaja kios yang barangnya tak laku. Ramai sehari, lalu sepi. Tidak ada dampak berarti bagi masyarakat,” kata Albert (Algan), warga Desa Wajo, Kecamatan Keotengah.
Menurut Albert, langkah pemerintah menggelar festival di tengah krisis air jelas tidak sejalan dengan visi-misi Bupati dan Wakil Bupati saat kampanye, yang dulu menjanjikan pembangunan jalan, listrik, dan air bersih sebagai “program super prioritas”.
“Dulu mereka janji air dan infrastruktur jadi prioritas. Tapi kenyataannya, rakyat masih jalan kaki dua kilometer hanya untuk seember air,” ujarnya.
Hal senada disampaikan Us, warga Mbay. Ia menilai dana festival seharusnya bisa dialokasikan untuk membangun sarana air bersih, seperti pompa tenaga surya dan bak penampung di wilayah-wilayah kering.
“Kalau dana Rp 170 juta itu dipakai bangun pompa dan bak air, pasti dampaknya jauh lebih nyata. Mereka seharusnya buat Festival Air Bersih, bukan festival pesta,” tegasnya.
Menurut Us, banyak kampung adat hanya dijadikan pajangan saat festival. “Mereka datang, tampil, lalu pulang dengan uang transportasi seadanya. Kampung tetap miskin dan haus. Air bersih jauh lebih penting daripada panggung musik,” katanya.
Kritik terhadap gaya pemerintah daerah yang hobi menggelar pesta juga pernah dilontarkan oleh Menteri Keuangan Purbaya.
Ia menegaskan banyak kepala daerah menghamburkan uang rakyat untuk festival ketimbang pembangunan infrastruktur dasar.
“Anggaran untuk festival lebih besar dari perbaikan irigasi. Tugu peringatan lebih tinggi dari alokasi dana guru honorer. Anda ingin uang lagi? Tunjukkan pertanggungjawaban Anda atas uang rakyat yang sudah diberikan!” tegasnya dalam sebuah pernyataan yang sempat viral di media sosial.
Di satu sisi, lembaga sosial dan masyarakat sipil bekerja keras memecahkan krisis air dengan solidaritas. Di sisi lain, pemerintah daerah justru sibuk membangun panggung hiburan. Air masih menjadi barang langka, dan janji kampanye masih sebatas slogan.
“Yang kami butuh bukan festival, tapi air bersih,” tutur Kepala Desa Servasius Ame menutup harapan. **
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.









