“Kita masih berada dalam situasi bencana. Karena itu masyarakat harus tetap waspada, terutama terhadap gempa susulan. Keselamatan masyarakat harus menjadi yang utama,” tegasnya.
Sementara itu, Bidan Maria Avila Goredy atau Bidan Endang menyampaikan apresiasi atas perhatian dan bantuan yang diberikan kepada masyarakat serta tenaga kesehatan yang bertugas di Posko Kesehatan Bea Waek.
Ia menjelaskan bahwa pelayanan kesehatan tetap dilakukan meskipun kondisi di lapangan masih terbatas. Para tenaga kesehatan bersama masyarakat mendirikan tenda sebagai tempat pelayanan setelah situasi pascagempa membuat warga merasa tidak aman berada di dalam bangunan.
“Kami sangat berterima kasih atas bantuan yang diberikan. Bantuan ini sangat berarti bagi kami dan masyarakat yang saat ini berada di posko. Apa yang diberikan akan kami manfaatkan untuk membantu memenuhi kebutuhan masyarakat,” ujar Bidan Endang.
Menurutnya, kebutuhan masyarakat di lokasi pengungsian dan posko kesehatan cukup beragam. Selain kebutuhan medis, masyarakat juga membutuhkan makanan, air minum, perlengkapan bayi, serta kebutuhan khusus perempuan.
Karena itu, bantuan berupa telur, mi instan, air minum, popok dan pembalut dinilai sangat membantu dalam kondisi darurat seperti saat ini.
“Di posko ini kami melayani masyarakat bersama teman-teman perawat dan bidan. Kondisinya memang masih terbatas karena gedung pustu mengalami rusak parah dan tidak bisa digunakan makanya pelayanan dilakukan di tenda, tetapi kami tetap berusaha memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat sebaik mungkin,” katanya.
Bidan Endang berharap dukungan dari berbagai pihak terus mengalir kepada masyarakat terdampak gempa, terutama bagi warga yang kehilangan tempat tinggal atau rumahnya mengalami kerusakan.
“Kami berharap perhatian dan bantuan seperti ini terus diberikan kepada masyarakat. Mereka sangat membutuhkan dukungan, bukan hanya untuk kebutuhan kesehatan, tetapi juga kebutuhan sehari-hari selama berada di posko,” ungkapnya.
Kunjungan Hans Rumat ke Bea Waek menjadi gambaran bahwa penanganan bencana tidak hanya membutuhkan bantuan dalam jumlah besar, tetapi juga membutuhkan kepedulian dan kehadiran langsung di tengah masyarakat.
Bagi warga yang sedang menghadapi trauma akibat gempa, kehadiran para tokoh masyarakat, pemerintah, organisasi politik dan berbagai kelompok sosial dapat memberikan kekuatan moral.
Di tengah keterbatasan fasilitas, para petugas kesehatan juga menjadi garda terdepan yang memastikan masyarakat tetap mendapatkan pelayanan. Mereka bekerja di tengah rasa khawatir dan kondisi darurat, namun tetap berusaha menjalankan tugas kemanusiaan.
Gempa bumi tidak hanya meninggalkan kerusakan pada bangunan, tetapi juga meninggalkan ketakutan dan kecemasan bagi masyarakat. Karena itu, proses pemulihan membutuhkan waktu, perhatian, serta kerja bersama dari seluruh pihak.
Hans Rumat bersama PKB menegaskan bahwa langkah kemanusiaan tersebut akan terus dilakukan sebagai bentuk kepedulian terhadap masyarakat Kabupaten Manggarai Timur yang sedang menghadapi masa sulit.
Bagi masyarakat Bea Waek, bantuan tersebut mungkin terlihat sederhana. Namun di tengah kondisi bencana, satu dus air minum, telur, makanan, hingga kebutuhan bayi dan perempuan dapat menjadi bantuan yang sangat berarti.
Di tengah duka gempa Flores, semangat gotong royong seperti inilah yang diharapkan terus tumbuh agar masyarakat terdampak tidak merasa berjalan sendirian dalam melewati masa-masa sulit dan proses pemulihan pascabencana. **
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.









