Scroll Ke bawah untuk melanjutkan

Kapolda NTT Tinjau Rusun Polres Manggarai Barat yang Retak, Puluhan Hunian Polisi Terdampak Gempa

Kontributor : Redaksi Editor: Tim Redaksi
  • Bagikan
IMG 20260827 210544
Kepala Kepolisian Daerah Nusa Tenggara Timur (Kapolda NTT), Irjen Pol. Dr. Rudi Darmoko, S.I.K., M.Si. Kapolda NTT turun langsung meninjau kondisi Rusun Polres Manggarai Barat di Labuan Bajo, Kamis (27/8/2026). (foto : Dok. Isth).

LABUAN BAJO, NTTNEWS.NET – Guncangan gempa bumi yang melanda Pulau Flores tidak hanya meninggalkan duka dan kerusakan pada rumah warga, tetapi juga berdampak pada fasilitas dan hunian anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia. Salah satunya Rumah Susun (Rusun) Asrama Polres Manggarai Barat yang mengalami kerusakan dan retakan hingga lantai tiga.

Kondisi tersebut mendapat perhatian serius dari Kepala Kepolisian Daerah Nusa Tenggara Timur (Kapolda NTT), Irjen Pol. Dr. Rudi Darmoko, S.I.K., M.Si. Kapolda NTT turun langsung meninjau kondisi Rusun Polres Manggarai Barat di Labuan Bajo, Kamis (27/8/2026).

Dalam kunjungan tersebut, Kapolda NTT didampingi Wakapolda NTT Brigjen Pol. Faizal, S.I.K., M.H., Kapolres Manggarai Barat AKBP Christian Kadang, S.I.K., serta sejumlah Pejabat Utama (PJU) Polda NTT.

Kunjungan itu dilakukan untuk melihat secara langsung kondisi hunian personel Polres Manggarai Barat yang terdampak gempa sekaligus memastikan keselamatan anggota dan keluarganya. Dalam kesempatan tersebut, Kapolda NTT juga menyalurkan bantuan khusus dari Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia (Kapolri) bagi anggota yang terdampak bencana.

Pantauan di lokasi menunjukkan sejumlah bagian bangunan rusun mengalami retakan. Kondisi tersebut membuat sebagian personel bersama keluarganya memilih mengungsi dan mendirikan tenda di halaman depan rusun.

Keputusan untuk tidak menempati sementara hunian tersebut dilakukan demi menghindari risiko yang lebih besar, terutama karena kondisi struktur bangunan masih harus melalui pemeriksaan dan penilaian lebih lanjut.

Di tengah situasi tersebut, para anggota Polri tetap dituntut menjalankan tugas kemanusiaan untuk membantu masyarakat yang menjadi korban gempa. Namun, di sisi lain, mereka juga harus menghadapi kenyataan bahwa tempat tinggal mereka sendiri ikut terdampak bencana.

Baca Juga :  Polsek Borong Dirikan Posko Pengungsian, Salurkan Sembako dan Perlengkapan Tenda untuk 221 Warga Korban Gempa

“Saya hadir untuk mengecek langsung kondisi rusun anggota Polres Manggarai Barat sesuai arahan Bapak Kapolri. Anggota Polri di lapangan bertugas membantu dan menolong warga masyarakat korban bencana, namun di sisi lain mereka dan keluarganya sendiri juga menjadi korban dan harus mengungsi di depan rusun,” ujar Irjen Pol. Rudi Darmoko di halaman Rusun Polres Manggarai Barat, Kamis (27/8/2026).

Kapolda NTT mengatakan, pihaknya sedang melakukan pendataan secara menyeluruh terhadap fasilitas kepolisian yang terdampak gempa di tujuh kabupaten di Pulau Flores.

Pendataan tersebut menjadi bagian penting dalam menentukan langkah penanganan, terutama untuk memastikan fasilitas yang mengalami kerusakan dapat segera diperbaiki berdasarkan tingkat kerusakan dan skala prioritas.

Berdasarkan data sementara Polda NTT, kerusakan fasilitas kepolisian akibat gempa mencakup 9 unit Polsek, dengan rincian 8 unit mengalami rusak ringan dan 1 unit rusak berat.

Selain itu, terdapat 4 unit Polsubsektor/Pos Polisi (Pospol) yang terdampak, terdiri dari 3 unit rusak ringan dan 1 unit rusak berat.

Sementara untuk asrama dan rusun Polri, tercatat sebanyak 54 unit terdampak, dengan rincian 42 unit mengalami kerusakan ringan dan 12 unit mengalami kerusakan berat.

Angka tersebut menunjukkan bahwa dampak gempa tidak hanya dirasakan masyarakat sipil, tetapi juga menyentuh fasilitas yang menjadi tempat tinggal dan pusat pelayanan anggota kepolisian di berbagai wilayah Flores.

“Sesuai perintah Bapak Kapolri, minggu ini seluruh kerusakan rumah anggota, kantor Polsek, maupun Pospol harus sudah terdata. Bangunan yang masuk kriteria rusak ringan akan menjadi prioritas utama perbaikan minggu ini, sedangkan untuk yang rusak berat akan kami usulkan ke Mabes Polri untuk penanganan lebih lanjut,” tegas Kapolda NTT.

Baca Juga :  Di Tengah Duka Gempa Flores, Ketua Dewan Syuro DPC PKB Manggarai Timur dan Relawan SIAGA Kebangsaan DPP Salurkan Bantuan

Di tengah luasnya dampak gempa, Kapolda NTT menyampaikan rasa syukur karena hingga saat ini tidak terdapat laporan anggota Polri yang meninggal dunia maupun mengalami luka-luka akibat bencana tersebut.

Meski sejumlah rumah dinas, asrama, rusun, kantor kepolisian, hingga fasilitas pelayanan mengalami kerusakan, keselamatan personel menjadi hal yang terus dipantau oleh jajaran Polda NTT.

“Hingga kini, tidak ada anggota Polri yang dilaporkan terluka atau meninggal dunia akibat gempa Flores,” tuturnya.

Namun demikian, Kapolda menyadari bahwa kondisi psikologis anggota dan keluarga yang harus mengungsi juga perlu mendapatkan perhatian. Mereka tidak hanya kehilangan rasa aman di tempat tinggal, tetapi juga harus tetap menjalankan tugas memberikan pelayanan kepada masyarakat yang sedang mengalami musibah.

Untuk membantu memulihkan kondisi psikologis masyarakat dan keluarga anggota Polri yang terdampak, Polda NTT menerjunkan 63 konselor trauma healing yang ditempatkan di sejumlah pusat pengungsian di tujuh kabupaten terdampak.

Tim tersebut merupakan gabungan dari Biro Psikologi SSDM Mabes Polri, Polda NTT, serta jajaran Polda BKO.

Pendampingan tidak hanya diberikan kepada orang dewasa, tetapi juga anak-anak yang mengalami ketakutan dan tekanan psikologis akibat gempa serta rangkaian guncangan yang terjadi setelahnya.

  • Bagikan