Scroll Ke bawah untuk melanjutkan

Stefanus Jemsifori: Pariwisata Mabar Sudah Kelas Dunia, Kolaborasi Jadi Kunci

Kontributor : Redaksi Editor: Tim Redaksi
  • Bagikan
IMG 20260317 121149
Kepala Dinas Pariwisata, Ekonomi Kreatif, dan Kebudayaan (Disparekrafbud) Kabupaten Manggarai Barat, Stefanus Jemsifori. (foto : isth).

LABUAN BAJO, NTTNEWS.NET – Kepala Dinas Pariwisata, Ekonomi Kreatif, dan Kebudayaan (Disparekrafbud) Kabupaten Manggarai Barat, Stefanus Jemsifori, menegaskan bahwa kehadiran Sekretariat Bersama (Sekber) Asosiasi Pariwisata Manggarai Barat merupakan wujud komitmen nyata pemerintah daerah untuk memperkuat kolaborasi dengan seluruh pemangku kepentingan di sektor pariwisata.

Menurut Stefanus, pemerintah daerah menyadari bahwa mengelola Manggarai Barat sebagai daerah destinasi pariwisata prioritas nasional tidak dapat dilakukan sendiri. Dibutuhkan dukungan serta keterlibatan aktif berbagai pihak, terutama asosiasi pariwisata yang selama ini berada di garis depan pelayanan wisata.

“Pemerintah daerah berpikir bahwa mengelola Manggarai Barat dengan predikat pariwisata prioritas tidak bisa berjalan sendiri. Harus ada kolaborasi dengan semua stakeholder, terutama asosiasi pariwisata, karena mereka adalah ujung tombak dan corong Pemerintah Daerah yang akan menyampaikan hal-hal baik tentang daerah ini kepada wisatawan,” ujar Stefanus di Labuan Bajo, pada Selasa (17/3/2026).

Ia menjelaskan bahwa sebagai bentuk keseriusan membangun sinergi tersebut, pada tahun 2025 pemerintah daerah memberikan sebuah gedung (pinjam pakai) yang dijadikan Sekretariat Bersama Asosiasi Pariwisata Manggarai Barat. Gedung ini menjadi rumah bersama bagi berbagai organisasi pariwisata yang aktif di daerah tersebut.

“Di Sekber ini ada 14 asosiasi yang aktif dari total 16 asosiasi yang terdaftar. Harapannya, ke depan sinergi antara pemerintah dan para pelaku pariwisata, terutama asosiasi, bisa berjalan lebih baik,” jelasnya.

Baca Juga :  Kapolda NTT Rotasi Perwira, Leo Marpaung Kini Pimpin Polairud Manggarai Barat

Stefanus menambahkan bahwa kehadiran Sekber juga penting untuk mendukung perencanaan pembangunan pariwisata yang lebih tepat sasaran. Pemerintah daerah membutuhkan data serta masukan langsung dari para pelaku di lapangan agar setiap program pembangunan benar-benar sesuai kebutuhan sektor pariwisata.

“Pemerintah menyadari bahwa semua perencanaan pembangunan daerah harus didukung oleh data dari orang-orang yang bekerja langsung di lapangan. Dengan begitu tidak ada lagi anggapan publik bahwa pemerintah membangun sesuatu secara mubazir atau asal bangun tanpa manfaat,” katanya.

Ia optimistis bahwa dengan dukungan asosiasi yang tergabung dalam Sekber, pembangunan sarana dan prasarana pariwisata ke depan akan semakin jelas arah serta peruntukannya.

“Kalau perencanaan itu didukung oleh data dari asosiasi dan pelaku lapangan, maka pembangunan pariwisata akan tepat sasaran dan benar-benar berpihak pada kebutuhan sektor ini,” tegasnya.

Stefanus juga menegaskan bahwa sektor pariwisata Manggarai Barat saat ini telah berada pada level internasional. Hal tersebut terlihat dari data kunjungan wisatawan yang terus meningkat setiap tahun.

“Pariwisata Manggarai Barat sekarang sudah kelas dunia. Itu terbukti dari data kunjungan wisatawan pada tahun 2025 yang sudah mencapai lebih dari 500 ribu orang, baik wisatawan domestik maupun mancanegara,” ungkapnya.

Baca Juga :  Tri Dedy Mengamuk di Aksi: Kuota Padar Selatan Tidak Masuk Akal dan Mencekik Rakyat!

Dari jumlah tersebut, sekitar 151 ribu wisatawan domestik dan lebih dari 300 ribu wisatawan mancanegara tercatat berkunjung ke Manggarai Barat.

Ia menilai capaian tersebut menjadi tantangan sekaligus tanggung jawab besar bagi pemerintah daerah dan masyarakat untuk terus berbenah, terutama dalam meningkatkan kualitas pelayanan pariwisata.

“Sebagai tuan rumah, Manggarai Barat harus terus berbenah. Kolaborasi itu tidak boleh hanya menjadi wacana, tetapi harus benar-benar diimplementasikan. Salah satu bukti nyata kolaborasi itu adalah pemberian gedung Sekber kepada asosiasi pariwisata,” katanya.

Selain infrastruktur dan kelembagaan, Stefanus juga menyoroti pentingnya peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) di sektor pariwisata, khususnya pemandu wisata atau tour guide.

Ia mengungkapkan bahwa saat ini masih banyak pemandu wisata di Labuan Bajo yang berasal dari luar daerah. Hal ini terjadi karena sebagian masyarakat lokal belum memiliki lisensi atau sertifikat profesi yang dibutuhkan.

“Kalau kita ingin melayani wisatawan secara profesional, maka semua aspek juga harus profesional. Tour guide harus memiliki lisensi dan sertifikat. Faktanya saat ini tour guide masih banyak didominasi oleh orang luar karena masyarakat lokal belum memiliki sertifikasi,” jelasnya.

  • Bagikan