LABUAN BAJO, NTTNEWS.NET – Di tengah keterbatasan ekonomi dan kehidupan sebagai seorang petani, Fransiskus Xaverius Boy, warga Kampung Meleng, Desa Cunca Wulang, Kecamatan Mbeliling, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT), harus menjalani hari-hari penuh penderitaan akibat penyakit yang dideritanya.
Selama kurang lebih tiga tahun, Fransiskus harus menahan sakit akibat luka serius pada bagian kakinya. Kondisi tersebut tidak kunjung mendapatkan penanganan medis secara optimal karena keterbatasan biaya yang dialami keluarganya.
Luka tersebut awalnya hanya berupa pembengkakan kecil di bagian kaki, tepatnya di antara jari kelingking dan jari manis. Namun, seiring berjalannya waktu, pembengkakan tersebut pecah dan mengeluarkan nanah.
Sejak saat itu, luka semakin membesar dan hingga kini belum mendapatkan penanganan medis yang memadai.
Kondisi Fransiskus bukan hanya menjadi persoalan kesehatan, tetapi juga menjadi beban berat bagi keluarganya. Sebagai kepala keluarga yang sehari-hari menggantungkan hidup dari bertani, dirinya tidak memiliki kemampuan ekonomi untuk membiayai pengobatan maupun tindakan operasi yang diperlukan.
Keluarga pun terpaksa melakukan pengobatan seadanya menggunakan obat tradisional karena tidak memiliki biaya yang cukup untuk mendapatkan perawatan secara rutin.
Filemon Balada Sentosa, keluarga dekat Fransiskus, mengatakan kondisi ekonomi keluarga tersebut sangat memprihatinkan. Menurutnya, keluarga Fransiskus saat ini benar-benar membutuhkan bantuan dan kepedulian dari berbagai pihak.
“Keluarga kami sangat membutuhkan uluran kasih dari semua orang baik. Kondisi Fransiskus sudah berlangsung kurang lebih tiga tahun dan sampai sekarang belum mendapatkan penanganan yang layak karena keterbatasan biaya,” ujar Filemon, Selasa (15/9/2026).
Ia menjelaskan, Fransiskus hidup bersama istrinya, Yasinta Firma, serta tiga orang anak. Anak pertama saat ini duduk di bangku sekolah menengah atas (SMK Negeri 1 Komodo), anak kedua masih duduk di kelas 5 sekolah dasar, sementara anak ketiga masih berusia sekitar 1 tahun 8 bulan.

Kondisi yang dialami Fransiskus turut berdampak terhadap kehidupan pendidikan anak-anaknya.
Filemon menuturkan, anak kedua Fransiskus bahkan sempat tidak masuk sekolah karena harus membantu sang ibu dalam memenuhi kebutuhan keluarga sehari-hari.
“Anak keduanya sempat tidak sekolah karena harus membantu ibunya memenuhi kebutuhan keluarga. Ini yang membuat kami sangat prihatin. Di satu sisi mereka membutuhkan biaya untuk pengobatan, tetapi di sisi lain kebutuhan hidup dan pendidikan anak-anak juga harus dipenuhi,” katanya.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.









