Sekolah dan keluarga memiliki peran penting dalam mencegah terulangnya kejadian serupa.
“Sekolah harus lebih serius dalam menanamkan pendidikan karakter, terutama terkait resolusi konflik, pengelolaan emosi, dan hubungan interpersonal yang sehat,” sarannya.
Di sisi lain, keluarga juga harus menjadi tempat yang aman bagi anak untuk belajar nilai-nilai moral.
“Orangtua perlu memberikan perhatian lebih pada perkembangan karakter anak. Jangan hanya mengandalkan sekolah,” tambahnya.
Kasus ini tidak hanya menjadi potret kekerasan, tetapi juga sebuah peringatan bahwa masih ada kekurangan dalam pendidikan karakter remaja.
“Ini adalah sinyal bahwa pola asuh, pendidikan, dan interaksi sosial kita masih perlu diperbaiki,” ujar Dr. Kanisius.
Masyarakat juga perlu terlibat aktif dalam mencari solusi. “Kita tidak hanya boleh mengecam, tetapi harus membangun budaya dialog sehat dan lingkungan yang mendukung perkembangan positif generasi muda,” tegasnya.
Kejadian ini adalah panggilan bagi kita semua untuk berbenah. Penting untuk menanamkan nilai-nilai antikekerasan dan menciptakan lingkungan yang penuh kasih, baik di sekolah, rumah, maupun di masyarakat. Kekerasan bukanlah solusi, dan tugas bersama kita adalah membentuk generasi muda yang tangguh, bermoral, dan mampu menyelesaikan konflik secara bijak.
“Masa depan bangsa ada di tangan generasi muda. Jika kita ingin melihat perubahan, kita harus mulai dari mereka,” tutup Dr. Kanisius. **
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.









