LABUAN BAJO, NTTNEWS.NET – Hutan mangrove membentang lebat dan alami dari Muara Pelabuhan Terang hingga Kampung Rosok, Desa Golo Sepang, Kecamatan Boleng, Manggarai Barat, NTT. Di antara barisan pohon bakau yang rimbun dan tinggi, beberapa pohon lain turut menambah kekayaan flora setempat. Mangrove ini tumbuh subur, membentuk pemandangan hijau nan sejuk sepanjang aliran muara.
Melintasi kawasan ini menggunakan perahu motor adalah pengalaman yang sungguh mengasyikkan. Air sungai tenang, semilir angin lembut membelai wajah, sementara hutan bakau seolah memeluk perjalanan kita. Pemandangan ini benar-benar menyegarkan jiwa dan pikiran.
Sungai yang membelah hutan tampak luas dan berkelok-kelok, layaknya lukisan alami karya Sang Pencipta. Sepanjang perjalanan, saya tak henti-hentinya mengabadikan momen eksotis ini melalui kamera ponsel.
Namun, sayangnya, potensi luar biasa ini belum sepenuhnya dimanfaatkan untuk pariwisata atau rekreasi alam. Padahal, jika dikelola dengan baik, kawasan ini bisa menjadi sumber pendapatan baru bagi masyarakat.
Menyusuri Kampung Rosok
Kesempatan mengunjungi Kampung Rosok menjadi pengalaman yang istimewa. Saya diajak oleh Siprianus Anjelo, anggota DPRD Manggarai Barat dari Fraksi Nasdem, yang memenuhi undangan sahabat lamanya, Kepala Desa Golo Pua, Yohanes K.T. Ben Suhardi.
Meskipun secara administratif Rosok berada di wilayah Desa Golo Sepang, banyak warga Golo Pua yang memiliki lahan dan sawah di kawasan ini. Pada Sabtu, 22 Maret 2025, kami berempat—saya, adik saya Ferry yang berprofesi sebagai arsitek, Senator Anjelo, dan Kades Suhardi—berangkat dari Labuan Bajo menggunakan mobil Kijang.
Perjalanan darat menuju Pelabuhan Terang memakan waktu sekitar 1 jam 40 menit, melewati bentangan hutan khas Pulau Flores. Sesampainya di pelabuhan, perjalanan dilanjutkan dengan perahu motor karena akses darat ke Kampung Rosok masih belum layak dilalui kendaraan roda empat.
Menunggu di pelabuhan, kami beristirahat sambil menanti perahu ojek yang telah dipesan Kades Suhardi. Tak lama kemudian, perahu tiba. Dengan biaya Rp10 ribu per orang, kami menyeberangi muara, menyusuri hutan mangrove yang lebat dan alami, akar-akarnya menukik ke air, menciptakan lanskap yang luar biasa memesona.
Di tengah perjalanan, sebuah papan peringatan mengingatkan kami akan kehadiran buaya di kawasan muara, menambah nuansa petualangan dalam perjalanan ini.

Pesona Kampung Rosok
Perjalanan dari Pelabuhan Terang ke Kampung Rosok memakan waktu sekitar 15 menit. Sebelum memasuki perkampungan, kami disambut hamparan sawah datar yang menguning, terbentang luas di bawah langit biru. Air sungai yang membelah kampung adalah air tawar, bersih dan jernih, mengalir sepanjang tahun. Di sepanjang tepian sungai, pohon kelapa dan rumah-rumah panggung warga menambah kesan eksotis.
Sumber air ini berasal dari mata air murni yang muncul di kaki gunung, di tengah hutan lebat khas Flores. Kampung Rosok bagaikan lukisan alam, persis seperti gambar yang dulu sering saya lihat di buku-buku sekolah dasar.
Keajaiban Empat Mata Air
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.









